Indeks Keamanan Siber RI Rendah, Ini Sektor yang Paling Siap Hadapi Krisis

BeritaLokal, Jakarta – Rendahnya indeks keamanan siber Indonesia menunjukkan bahwa adopsi teknologi perlindungan digital masih terbatas. Menurut laporan National Cyber Security Index (NCSI) per September 2023, Indonesia menempati posisi keempat di ASEAN dengan skor 63,64, menghiasi peringkat setelah Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Head of Solution Engineering F5 Indonesia, Danang Wijanarko, menyatakan bahwa indeks rendah ini bukti adopsi teknologi proteksi di Tanah Air belum mampu menangani kecepatan serangan siber berbasis AI yang semakin eksplosif. “Kombinasi kompleksitas sistem dan otomatisasi ancaman berbasis AI membuat ancaman digital semakin nyata,” kata Danang dalam sesi media briefing, Selasa malam (9/6/2026) di Jakarta.

Sektor perbankan dan pemerintah menunjukkan kesiapan yang lebih cepat. F5 Indonesia mengungkapkan bahwa sektor korporasi skala besar, terutama industri keuangan, merupakan sumber daya yang paling siap dalam mempercepat adopsi teknologi proteksi. “Banking adalah sektor paling siap karena menyangkut aset finansial dan data sensitif pelanggan,” kata Danang.

F5 menghadirkan Application Delivery and Security Platform (ADSP) sebagai solusi untuk menggabungkan fungsi keamanan aplikasi, API, dan AI. Platform ini dirancang untuk mempercepat respons terhadap ancaman digital dengan integrasi yang lebih lengkap.

Sementara itu, instansi pemerintah menempati urutan kedua dalam kesiapan menghadapi ancaman siber. Kesiapan mereka dipicu oleh tanggung jawab besar dalam menjaga data krusial seperti data perpajakan dan kependudukan. “Perbedaan antara perbankan dan pemerintah terletak pada fokusnya pada transaksi versus kebijakan,” jelas Danang.

Indeks keamanan siber Indonesia masih memerlukan pembenahan lebih besar, terutama dalam menghadapi ancaman post-quantum. Dengan meningkatkan kesiapan sektor publik dan swasta, Indonesia dapat menyelesaikan tantangan digital yang semakin kompleks.

error: Content is protected !!