Hilirisasi Mineral Kritis: Danantara Sinergikan BUMN untuk Teknologi Maju

BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memperkuat kerjasama dengan empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mendorong hilirisasi mineral kritis dan percepat transformasi industri material maju. Kebutuhan menjamin pasokan bahan tambang yang terkendali serta penguatan rantai nilai teknologi masa depan menjadi fokus utama, dengan langkah strategis yang dilakukan oleh Danantara dalam kebijakan pengembangan ekonomi berbasis teknologi. Dalam rangka memperkuat kapasitas industri nasional, sinergi antara Danantara dan empat BUMN terus diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan mineral kritis yang menjadi fondasi dalam inovasi teknologi seperti baterai kendaraan listrik dan semikonduktor.

Pada acara “Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing,” Danantara menegaskan pentingnya hilirisasi bahan tambang demi meningkatkan daya saing industri nasional. Bahan-bahan seperti nikel, bauksit, tembaga, dan logam tanah jarang (rare earth) dianggap sebagai fondasi teknologi masa depan, namun sering kali terlibat dalam siklus ekonomi yang tidak seimbang. Menurut Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengubah nilai tambah dari sumber daya mineral ini menjadi produk hilir berdaya saing global.

Dalam rangka mempercepat transformasi industri material maju, Danantara mendorong empat BUMN melalui nota kesepahaman (MoU) pengembangan material maju (critical minerals downstreaming). Pihaknya menggandeng PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), PT LEN Industri (DEFEND ID), PT Krakatau Steel (KSS), dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) dalam proyek pengelolaan sumber daya mineral kritis. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pasokan dan penyerapan bahan tambang, serta mempercepat lahirnya industri material maju berskala besar melalui kolaborasi teknologi dan manufaktur.

Kerja sama ini berdasarkan kebijakan hilirisasi yang diharapkan mampu mengatasi masalah ketergantungan pada impor produk jadi dari luar negeri. Rosan Roeslani menjelaskan bahwa strategi ini sejalan dengan program nasional seperti produksi mobil listrik dan industri dirgantara, serta memperkuat rantai pasok mineral kritis yang terintegrasi. “Kami berkomitmen pada penguatan kapasitas industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi, dan kompetitif global,” kata Rosan dalam sambutan resmi.

Selain itu, Danantara juga memperkuat kerja sama dengan perusahaan asal Abu Dhabi, NEM, untuk pengelolaan logam tanah jarang (rare earth) di Indonesia dan Gabon. Proyek ini mencakup evaluasi potensi kolaborasi strategis dalam proses pemrosesan dan manufaktur lanjutan. Dengan kerja sama ini, Perminas menggandeng NEM untuk membangun rantai pasok rare earth yang tangguh dan berdaya saing, sekaligus mendukung kebijakan hilirisasi mineral kritis.

Pemanfaatan logam tanah jarang menjadi salah satu fokus utama dalam kerja sama antara Danantara dan Perminas. Rosan Roeslani memastikan bahwa integrasi hulu-hilir mineral kritis akan terus diarahkan melalui pengembangan sumber daya, pemrosesan, serta manufaktur lanjutan. Dengan kerangka kerja sama yang ditetapkan, pihak-pihak terkait diharapkan mampu menghasilkan produk hilir yang berdaya saing dan sejalan dengan kebutuhan industri strategis nasional.

Analisis singkat menunjukkan bahwa kerja sama ini tidak hanya memperkuat kapasitas pasar Indonesia tetapi juga mencerminkan komitmen pemerintah untuk mendorong ekonomi yang berbasis teknologi. Dengan mengoptimalkan hilirisasi mineral kritis, Indonesia dapat meningkatkan keamanan pasokan bahan tambang, memperkuat daya saing industri nasional, serta menjawab tantangan global dalam penguatan kapasitas manufaktur dan inovasi teknologi.

Artikel Terkait

0