BeritaLokal, Jakarta – Harga Emas Naik ke Posisi Tertinggi, Permintaan Safe Haven Melonjak saat logam mulia mencapai puncak 4.115,89 USD per ounce di pasar spot pada penutupan perdagangan Rabu, 22 Juli 2026, menandai pertumbuhan 1 % dibandingkan harinya sebelumnya. Kenaikan ini bersandar pada aksi beli teknikal dan persepsi investor bahwa emas tetap menjadi safe haven ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah merata serta diperkirakan Pertemuan Kebijakan Moneter Federal Reserve (The Fed) pekan depan akan menegaskan arah suku bunga.
Reaksi Investor di Tengah Konflik
Pada senin 20 Juli, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengomentari kesiapan Washington bernegosiasi dengan Iran, namun menegaskan bahwa Tehran belum menunjukkan keseriusan. Tanggapan tersebut belum meredakan spekulasi pasar karena situasi di Laut Merah semakin tegang, di mana tiga kapal tanker Arab Saudi ke China serta India berbalik arah di patung Houthi Â‑ yang didukung Iran. Konsekuensi konflik ini mendorong harga minyak global naik, menambah keterangan inflasi, dan menarik permintaan emas yang diinterpretasikan sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.
Kami kemudian mengamati bahwa pada 21 Juli, harga emas spot menduduki level tertinggi sejak 7 Juli dengan rekor 4.122,30 USD per ounce, sebelum menurun sedikit saat spekulasi pasar menepis data terkini. Namun, pada 22 Juli penutupan diberi nilai 4.115,89 USD per ounce, yakni 1 % kenaikan yang cukup signifikan bagi investor institusional yang mengamati pergerakan minor di pasar logam bergizi.
Pengaruh Fed & Logam Mulia
Perlombaan pasar untuk menebak arah kebijakan The Fed menunjukkan bahwa hampir 68 % pelaku pasar mengharapkan kenaikan suku bunga pada September mendatang, menurut data CME FedWatch Tool. Di sisi lain, pernyataan Reuters sebelumnya menyatakan kemungkinan The Fed menahan suku bunga sampai akhir 2026, menyoroti ketidakpastian di antara para analis. Akibatnya, pepperalty (tangkap) logam mulia lainnya turut naik: perak spot berada di 59,35 USD per ounce, platinum di 1.646,63 USD, dan palladium melakukan lonjakan 1,8 % menjadi 1.305,41 USD per ounce, menandakan resiko yang pelik pada sektor logam komersial.
Kenaikan harga minyak, meski menambah risiko inflasi, dikecengin oleh tingginya permintaan safe haven. Menurut analis senior ActivTrades, Ricardo Evangelista, kenaikan minyak dapat memperpanjang kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, namun permintaan emas tetap berada di level resilien. Evangelista menambahkan bahwa dukungan teknikal di level 4.000 USD per ounce masih kuat bagi emas, meskipun tekanan volatilitas energi belum wajar.
Tantangan lainnya muncul dari dinamika politik luar negeri: ketegangan di Timur Tengah terbuka saat insiden di Laut Merah. Seiring pengiriman minyak diharhati, investor melacak pergeseran global karena ketegangan. Untuk alasan ini, emas dapat melonsumsi kembali potensinya ketika negara geriga menyesuaikan kebijakan moneter.
Terakhir, meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kebijakan suku bunga tinggi dapat mengurangi daya tariknya. Namun, faktor geopolitik menyoroti pentingnya logam sebagai aset yang melindungi kapabilitas portofolio. Dengan pasar masih memproyeksikan dua kenaikan suku bunga tetap sehingga dapat mengancam daya tarik aset non-yielding, emas tetap menolak koreksi signifikan dalam dua pekan terakhir, menandakan kepercayaan investor tetap tinggi terhadap safe haven ini.
Artikel Terkait
Rupiah Tembus 18.009, Kurs Rupiah Turun Hari Ini
27 Juli 2026
Harga Emas 24K Naik, Pegadaian Tetap Stabil Senin 27 Juli
27 Juli 2026
Harga Emas Hari Ini 27 Juli 2026 Raja Emas Laku Emas Buka
27 Juli 2026
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Rp63k & Telur Rp32k per Kg
27 Juli 2026
Harga Emas Pegadaian 27 Juli 2026 Harga dan Perbandingan
27 Juli 2026
Singapura Tegkatkan Kebijakan Moneter, Tangani Minyak Pedas
27 Juli 2026
Super El Niño Memaksa Indonesia Rentan Inflasi Global
27 Juli 2026
Memuat komentar...