BeritaLokal, Jakarta – Harga Bitcoin Berada di Bawah Puncak Sejak Mei 2026
Pertumbuhan pasar kripto terus menghadapi tekanan akibat ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga. Harga Bitcoin (BTC) mencapai level tertinggi sekitar US$ 126.000 pada Oktober 2025, tetapi saat ini mengalami penurunan sebesar 50% dari titik itu. Pada Kamis, harga BTC berada di kisaran US$ 62.300, dengan pergerakan terkini mengalami turun 2%. Sementara Ethereum (ETH) melanjutkan tren penurunan sejak bulan lalu, mencapai level US$ 129,37 pada Jumat.
Grayscale Strategi Menjual 32 Bitcoin, Kepemilikan Kembali Terbatas
Head of Research Grayscale, Zach Pandl, mengungkapkan bahwa aksi penjualan 32 bitcoin (BTC) senilai US$ 2,5 juta atau Rp 45,22 miliar pada awal pekan ini menunjukkan ketidakstabilan dalam manajemen keuangan perusahaan. Pandl menyebut bahwa strategi tersebut telah mengurangi kepemilikan BTC sejak Desember 2022, dan kini total kepemilikan mereka adalah 843.706 BTC.
Pandl menyoroti bahwa penjualan ini tergolong kecil dibandingkan dengan total kepemilikan strategi, yang mencapai jutaan BTC. Namun, ia menyebut perubahan dalam manajemen keuangan, termasuk penggunaan leverage, memengaruhi sentimen pasar yang terus berfluktuasi akibat ketidakpastian geopolitik.
Pasar Kripto Berada di Bawah Tekanan Leverage dan Volatilitas
Saham preferen STRC (Stretch) dan MSTR (Morgan Stanley) mengalami pergerakan yang terkait dengan volatilitas harga saham. STRC mencapai level US$ 95,42 pada Kamis, tetapi masih di bawah target US$ 100 yang ditetapkan sebelumnya. MSTR naik 2,2% ke US$ 129,37, meskipun mengalami penurunan sekitar 30% dalam satu bulan terakhir.
Pandl menekankan bahwa model bisnis Grayscale yang menggunakan leverage berada di bawah tekanan, sehingga meningkatkan volatilitas pasar BTC secara keseluruhan. Ia menyebut bahwa strategi tersebut, yang sebelumnya merupakan pembeli bersih BTC, kini mungkin memiliki batasan dalam mengakumulasi lebih banyak token pada harga saham saat ini.
Arus Dana Bursa Kripto Meningkat Tapi Berada di Bawah Rendah
Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot AS mencatat arus masuk bersih sebesar US$ 3,05 juta atau Rp 55,17 miliar pada Kamis, mengakhiri tren arus negatif selama 13 hari. Dua ETF utama, BlackRock IBIT dan Morgan Stanley MSBT, mencatat arus masuk bersih sebesar US$ 47,7 juta dan US$ 9,9 juta masing-masing.
Sementara itu, harga Bitcoin terus mengalami tekanan dari pergerakan pasar yang dipengaruhi oleh tren penurunan global dan ketidakpastian politik. Perubahan kebijakan atau kondisi ekonomi dapat memperburuk dinamika harga kripto di masa depan.