Gerak Hijau 2026 Wamen LH Dorong Kolaborasi Lingkungan

BeritaLokal, Jakarta – Pada pemuncak Gerak Hijau 2026 yang digelar di Jakarta pada Minggu, 26 Juli 2026, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menegaskan bahwa “Wamen LH: Jaga Lingkungan Bukan Hanya Tugas Pemerintah dan Perusahaan.” Ia menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak bisa dipihak pertengahan, melainkan memerlukan kolaborasi antara semua elemen sosial, politik dan ekonomi. Dalam pidatonya, Diaz menyampaikan bahwa tanggung jawab atas bumi ini adalah milik kita semua-mulai dari pegawai negeri, pengusaha, hingga warga biasa yang aktif menjaga kebersihan dan mencuci tangan. Dia menekankan, “Kita harus berbagi beban ini bersama” dan bertanya, “Bagaimana kita bisa memastikan keberlanjutan tanpa melibatkan setiap lapisan masyarakat?”

Dia menjelaskan bahwa wujud kerja sama tersebut akan sangat terasa di sektor pertambangan yang sering kali menimbulkan dampak lingkungan. Kegiatan ini, menurut Diaz, dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian jika setiap pemanfaatan sumber daya alam diimbangi dengan program rehabilitasi dan penggunaan energi terbarukan. Dia mengutip contoh konkret perusahaan Australia’s Hindustan Antam (ANTAM), dimana Direktur Utama Untung Budiharto telah mengumumkan pencapaian signifikan dalam mengurangi emisi karbon. Kini, ketika menanyakan apa yang telah dilakukan oleh ANTAM, dia menegaskan, “Sampai 2025, kami menurunkan emisi karbon sebesar 9,43% dan terus melampaui target tahunan.” Keterlibatan ANTAM tidak hanya sebatas angka; perusahaan juga mendistribusikan ribuan bibit pohon kepada masyarakat lokal sebagai simbol komitmen hijau.

ANTAM Praktik Hijau Inspirasi

Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, meski fokus pada pertambangan timah, menekankan pentingnya penggunaan energi terbarukan dalam operasi sehari‑harinya. Ia menjelaskan bahwa perusahaan telah mempercepat dekarbonisasi melalui pemanfaatan solar PV dan biosolar di berbagai wilayah. “Penggunaan energi bersih tidak hanya mengurangi karbon, tapi juga menurunkan biaya operasional,” ujar Budiharto. Ia menyoroti bahwa selain rehabilitasi lahan, ANTAM juga menjaga keseimbangan ekosistem dengan pembagian bibit pohon kepada masyarakat, berharap umat tidak membuangnya di bawah trotoar. Namun, tantangan tetap ada-bagaimana menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dan teknologi yang masih mahal di daerah terpencil.

Dia menambahkan bahwa program “Reklamasi Lanskap” ANTAM telah melampaui target nasional. Dalam sesi tanya jawab, dia menjelaskan, “Setiap proyek rehabilitasi dilengkapi dengan monitoring kualitas udara dan air, serta penghijauan aktif.” Sementara itu, kontribusi energi terbarukan telah menstabilkan kurang dari 10% emisi CO₂ perusahaan. Hal ini mematahkan stereotip bahwa industri pertambangan tidak bisa berproses hijau. Budiharto memanggil seluruh stakeholder, termasuk komunitas lokal, lembaga swadaya masyarakat, dan perguruan tinggi, untuk terlibat aktif dalam setiap fase pengelolaan.

Dia juga menyoroti peran pemerintah dalam merancang regulasi yang menyeimbangkan kebutuhan ekonomi nasional dan keberlanjutan lingkungan. Sejak adopsi kebijakan “Indonesia Hingga Net‑Zero 2050,” pemerintah telah meningkatkan dana untuk teknologi hijau dan program edukasi. Pemerintah bertugas menetapkan standar emisi dan menyediakan insentif bagi perusahaan yang mengurangi dampak lingkungan. Sementara dunia usaha seperti ANTAM memegunakan praktik terbaik, masyarakat diwajibkan menumbuhkan kebiasaan hijau dalam keseharian, seperti menggunakan transportasi publik dan menghemat energi.

Dia menegaskan kembali pentingnya sinergi agar “Wamen LH: Jaga Lingkungan Bukan Hanya Tugas Pemerintah dan Perusahaan.” Sistem kolaboratif ini rasanya menumbuhkan ekspektasi bahwa setiap lapisan masyarakat dapat memanfaatkan layanan publik untuk melestarikan bumi. Mengingat tantangan perubahan iklim, abortif langkah awal dalam hal kebebasan kebersamaan bisa memicu iterasi positif. Diaz mengajak semua pihak, bahkan sektor informal, untuk terlibat aktif di Gerak Hijau, mengajak mereka berdampak langsung terhadap kehidupan lingkungan.

Gerak Hijau 2026 sendiri dirancang sebagai ruang edukasi publik, di mana para peserta dapat mengenal praktik lingkungan terbaik, mempelajari teknik pengelolaan sampah dan energi terbarukan, serta berbagi cerita sukses lokal. Dalam rangkaannya, Diaz menyoroti kesan pertama bahwa banyak peserta yang memang belum terlalu paham tentang peran aktif mereka. Ia memanggil para peserta untuk berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan serta berkontribusi di mata rantai produksi perusahaan. Dia menegaskan, “Setiap tindakan kecil kita dapat menjadi batu loncatan bagi perbaikan besar.”

Dia menutup acara dengan harapan bahwa kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat akan meneropong masa depan yang lebih hijau. Diaz menegaskan kembali bahwa jaminan lingkungan harus terintegrasi dalam semua kebijakan publik dan strategi bisnis. Ia berharap bahwa suara “Wamen LH: Jaga Lingkungan Bukan Hanya Tugas Pemerintah dan Perusahaan” menjadi titik awal semangat sekutu kuat untuk memajaikan bumi dalam era modern.

Artikel Terkait

0