BeritaLokal, Jakarta – Film Lastri Arwah Kembang Desa akhirnya menyapa para pencinta sinema, menampilkan kembali kebersamaan Nando Hilmy dan Gary Iskak dalam sebuah proyek yang sebelumnya terasa seperti mimpi. Dengan tema horor menggambarkan peristiwa tragis di desa dengan nama Lastri, film ini sekaligus menjadi kado untuk almarhum Gary Iskak, sahabat dekat Nando Hilmy. Tayang di bioskop Tanah Air 16 Juli 2026, Lastri Arwah Kembang Desa menggambarkan kekejaman yang dilakukan oleh arwah Lastri terhadap Atmi (Audy Bella) dalam kisah tentang isu teror gaib. Film ini dirancang oleh sineas Hendry Tivo dan dibintangi Hana Saraswati, serta Nando Hilmy sebagai pemeran utama dalam peran almarhum Gary Iskak.
Selain itu, film ini juga menggambarkan kisah kehidupan Gary Iskak sebelumnya, yang menikahi Turenggo di kampung Bandeng pada tahun 1980-an. Sebagai juragan tambang pasir, pernikahan tersebut menjadi bahan percobaan untuk mencuri perhatian warga setempat, terutama Darman (Yama Carlos), rival Turenggo yang menyebar rumor dan mengakibatkan konflik horizontal. Dalam kesempatan wawancara pada Kamis, 9 Juli 2026, Nando Hilmy menyampaikan rasa lega yang dialami setelah film ini selesai ditayangkan. “Film ini bukan hanya untuk persembahan, tapi memang beliau main di sini. Kebetulan pas banget, karya terakhir beliau ada akunya di situ,” kata Nando Hilmy, menjelaskan rasa syukurnya atas kesempatan bermain bersama ayahnya.
Kangen Ayah Saat Roadshow di Lumajang
Perjalanan roadshow film Lastri Arwah Kembang Desa mengingatkan Nando Hilmy pada kenangan kecil yang tak terlupakan. Pada delapan bulan sebelum pemutaran film, Nando dan ayahnya melakukan aktivitas bersama di Lumajang, Jawa Timur. “Kita bareng-bareng di Lumajang, banyak melakukan aktivitas bareng almarhum,” ujar Nando, mengungkapkan rasa kangen yang tak pernah beranjak dari benaknya setelah kehilangan ayah. Kebersamaan tersebut menjadi momen penting dalam hidupnya, memperkuat hubungan antara mereka dan juga menunjukkan bagaimana kehidupan almarhum tergambarkan melalui film ini.
Proyek Film yang Menggambarkan Kehidupan Almarhum
Film Lastri Arwah Kembang Desa tidak hanya menggambarkan konflik sosial, tetapi juga mencerminkan kehidupan Gary Iskak sebelumnya. Dalam kisahnya, almarhum terlibat dalam pernikahan dengan Turenggo di desa Bandeng, yang menjadi bahan percobaan untuk menarik perhatian warga. Namun, film ini juga menggambarkan kehidupan sehari-hari almarhum sebagai juragan tambang pasir, termasuk pengalaman kerja yang berat dan sosial. “Film ini adalah kisah hidup beliau, dari pernikahan hingga konflik di desa,” kata penulis film Hendry Tivo dalam wawancara terpisah.
Peran Nando Hilmy sebagai Pemeran Utama
Nando Hilmy tidak hanya menyampaikan rasa lega, tetapi juga memainkan peran pemeran utama dalam film ini. Ia mengaku bahwa bermain bersama ayahnya di layar lebar adalah pengalaman yang tak terlupakan. “Saya merasakan keberanian beliau saat bermain, dan rasa syukur atas kesempatan ini,” katanya. Film ini juga menjadi peluang untuk Nando Hilmy memperkuat peran almarhum dalam kisah horor yang menggambarkan kekejaman arwah Lastri terhadap Atmi.
Dampak Positif Kebijakan Baru dan Pengembangan Bisnis
Selain film, keberhasilan Lastri Arwah Kembang Desa juga menunjukkan dampak positif dari kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan industri film. Pemerintah memperkuat sinema dengan memberikan dana dan dukungan regulasi, sehingga banyak sineas muda seperti Hendry Tivo dapat berkarya. “Film ini adalah contoh keberhasilan dari kebijakan pemerintah yang mendukung ekosistem industri film,” ujar sumber terkait. Dampaknya juga berdampak pada sektor pariwisata, dengan mendorong pengembangan lokasi syuting dan menarik investasi baru.
Fakta Tambahan: Pemutaran Film di Lokasi Asli Desa
Film Lastri Arwah Kembang Desa juga mengambil alur di lokasi asli desa Bandeng, yang menjadi tempat kejadian utama kisah Gary Iskak. Pemutaran film dilakukan di bioskop Tanah Air dengan menampilkan detail lokal seperti taman, pasar, dan rumah-rumah masyarakat. “Lokasi syuting ini merupakan bagian dari kisah beliau, sehingga memperkuat kesan film,” kata penonton. Film juga menggambarkan kehidupan sehari-hari almarhum dengan detail yang mendalam, seperti penggunaan bahan lokal dan seni tradisional.
Artikel Terkait
Keisha Alvaro Brilian di Film Horor Sihir Tanah Kubur
18 Juli 2026
Suanggi Film Horor Papua Hadirkan Mitos dan Budaya Timur
16 Juli 2026
Awi Suryadi Tolak Elemen Religi, Ciptakan Film Horor Baru
16 Juli 2026
Hantu Rahma Menjadi Top 3 Kini Terkeren Film Cerita Lila
16 Juli 2026
Fadly Faisal di Film Paket Santet, Ungkap Pandangan Mistis
16 Juli 2026
Richa Iskak Nangis di Gala Premiere Film Lastri
15 Juli 2026
Sutradara Larang Pemain Nonton Film Horor Barunya
15 Juli 2026
Lee Min Ho & Yoo Hae Jin Bintangi Film The Assassins yang Mengungkap Misteri Penembakan 1974
14 Juli 2026
Memuat komentar...