Dewi Perssik Tekankan Panggung Lebih Penting pada D’Academy 8

BeritaLokal, Jakarta – Dewi Perssik Ingatkan Peserta D’Academy 8, Penyanyi Tak Cukup Punya Suara Bagus, bahwa bakat vokal itu belum cukup bila attitude panggung tidak mengikuti. Peringatan ini timbul ketika dua peserta, Listen dan Kiara, memulai duet “Cuma Satu” pada babak final audition sama-sama dipasangkan berkarakter centil dan manja oleh coach Fildan. Sebaliknya, penampilan mereka masih belum berhasil meraih Standing Ovation (SO) dari dewan juri, termasuk Dewi Perssik sendiri.

Judul acara menuntut para juri untuk menilai tidak hanya kualitas suara, namun juga penguasaan tempo, dinamika, dan kejelasan ekspresi di atas panggung. Dewi Perssik, setiap kali memulai komentar, memuji kedua bakat itu karena tetap mampu menghibur penonton. Namun ia juga menegaskan bahwa menjadi penyanyi profesional melampaui kemampuan bernyanyi; sikap panggung yang konsisten dan sesuai dengan nuansa lagu adalah kunci yang tak boleh diabaikan.

Berbicara panjang lebar, Dewi menyampaikan bahwa pencapai senarai panggung harus harmonis dengan musik yang dimainkan. Ia memberi contoh tentang Listen yang, meski memiliki suara bagus, sering terlihat kurang energik, sedangkan Kiara padahal penuh semangat, terkadang meloncat keluar dari tempo. Ia menekankan bahwa pros dan ritme harus diselaraskan agar penampilan tidak terasa “off‑tempo” saat disorot para juri.

Sikap Panggung Penting Di Kenaikan D'Academy

Menurut Dewi Perssik, tekanan di atas panggung bukan tentang koreografi identik melainkan menyesuaikan gerak dengan ketukan lagu. Ia mengingatkan bahwa “orang tidak harus menari banting kanan‑banting kiri; yang penting, gerakan menyatu dengan nada.” Keluhan tentang ketidaksesuaian ini muncul karena beberapa pembentukan gerakan yang melebihi batas ritme. Fokusnya lebih ke ekspresi suasana lagu, dengan gerakan yang jelas mengikuti irama dan memberi kesan nyaman bagi penonton.

Fildan Bahas Karakter Peserta

Sementara itu, coach Fildan memilih kedua peserta tersebut sebagai pasangan karena persepsi perilaku yang serupa. Ia mempertahankan bahwa para bakat di panggung harus mampu menyesuaikan karakter mereka, tidak hanya dalam teknik vokal. Dari analisis Fildan, Listen membutuhkan “makan” atau“paduan energi” yang lebih kuat supaya suaranya lebih ‘mengena’. Kiara, dengan karakternya yang manja, diharapkan lebih konsisten dalam mengeksekusi tempo.

Setelah menyampaikan masukan tersebut, Dewi mengingatkan mereka tentang pentingnya konsistensi mulai dari panggung hingga pencitraan publik. Ia menegaskan bahwa meskipun Gaya vokal mereka telah menunjukkan potensi, “seniman yang baik harus mampu menyampaikan pesan melalui setiap gerakan.” Peringatan ini datang pada saat publikasi akhir D’Academy 8 memantik para peserta untuk mengevaluasi ulang daya tarik mereka tidak hanya melalui suara tetapi juga ekspresi visual.

Terlepas dari kritik, Dewi tetap membuka sisi kebanggaan atas suara mereka, menyatakan bahwa “suara mereka bagus, tapi kita harus menjaga attitude agar menjadi penyanyi yang ‘sehat’ di mata penonton.” Hal tersebut menjelaskan strategi baru bagi para pemilik jalur karir dalam industri hiburan, menekankan relevansi kemampuan vokal yang memadai dan performa panggung yang terpusat.

Artikel Terkait

0