BeritaLokal, Jakarta – Cerita Basuki, Sutradara Tunanetra Menyajikan Film Inklusif Langit Tetap Sama menggugah hati, menegaskan bahwa keterbatasan visual tidak menghentikan kreativitas. Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Auditorium Perpustakaan Nasional pada Kamis (23/7/2026), Basuki, yang kini menjadi nama terpanjang di dunia sinema Indonesia, menjelaskan bahwa film inklusifnya lebih dari sekadar cerita, melainkan jembatan akses bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia menekankan bagaimana setiap adegan dapat diakses oleh orang tunanetra dan semua penonton melalui solusi teknologi yang inovatif.
Sebelum menayangkan ziarannya, Basuki didampingi oleh Amin dan Budi Sumarno, Ketua Umum Komunitas Cinta Film Indonesia, dalam acara roadshow yang dipamerkan di kawasan Jakarta. Budi, yang menilai Langit Tetap Sama menandai debut resmi Basuki sebagai sutradara, menambahkan, “Walaupun Basuki belum pernah belajar membuat film, ia mampu menghasilkan karya berdurasi 70 menit yang menyajikan narasi yang kuat dan visual yang memukau.” Memang, di balik keberhasilan ini, Basuki mengejar ide inklusivitas sejak tahap pra-produksi, menjadikan setiap elemen produksi dilandasi prinsip aksesibilitas.
Pionir Film Inklusif Dari Nol
Pada inti penyampaian Basuki, kata “film inklusif” bukan sosok karakter yang mengalami disabilitas, melainkan suatu mekanisme agar seluruh audiens, termasuk tunanetra, dapat merasakan jejak emosi cerita. Ia menjelaskan, “Kita fokus pada akses, bukan konten. Apapun genre, apapun narasinya, penting agar film tersebut dapat diinterpretasi oleh siapa saja.” Rinciannya, setiap adegan tanpa dialog disertai audio description yang di-stream melalui Radio FM, memungkinkan penonton menukar musik dan suara layar dengan narasi yang lebih detail. Hal ini diluncurkan di frekuensi 107.4 FM, yang dapat diakses lewat aplikasi radio FM pada smartphone.
Audio Description Mempermudah Akses Penonton
Basuki mengungkapkan bahwa sistem audio description ini tidak hanya bermanfaat bagi tunanetra. Ia menambahkan, “Orang awas atau orang yang mempunyai penglihatan baik juga dapat menikmati narasi tersebut, sehingga menjadi jaminan kualitas untuk semua pengguna.” Penerapan audio description ini dirancang pada tahap pengambilan gambar, sehingga tidak memerlukan pemotongan atau editing tambahan di pasca-produksi. Sebagai contoh, ketika adegan lampu atmosfer berubah tanpa dialog, deskripsi audio akan menyebutkan karakter lengkapi atribut visual, warna, dan gerakan yang tersembunyi di layar. Dengan cara ini, penonton tidak merasa kehilangan bagian penting dari cerita.
Kesadaran Basuki tentang biaya produksi juga terlihat jelas saat ia membahas efisiensi tema inklusivitas. Ia menegaskan, “Jika ingin menjadi film inklusif, kita harus merencanakannya sejak awal. Dengan pendekatan ini, proses produksi lebih ekonomis, tanpa harus menambah biaya transformasi akses pada tahap akhir.” Komitmen ini tercermin dalam ringkasan produksi; setiap keputusan-dari pemilihan sinematografi hingga pengaturan lampu-masing-masing dilihat melalui prisma kemudahan akses. Perumusan kebijakan ini malah mencairkan hambatan audiens serta mempermudah distribusi di rumah-rumah tele-film.
Meskipun Basuki belum pernah belajar membuat film sebelumnya, ia tak hanya mengatasi hambatan visual, melainkan juga mengimplementasikan solusi teknologi. Untuk memastikan kalimatnya yang memuntahkan “Langit Tetap Sama” menjadi praktis, ia memungut buah keterbatasan visualnya menjadi kekuatan, menegaskan satu hal: “Tidak menyelesaikan film lalu menerapkan inklusi lebih sulit dan mahal.” Menggunakan strategi yang terintegrasi sejak nol, Basuki mengalahkan prediksi skeptis bahwa seorang tunanetra dapat menavigasi dunia film.
Kehadiran Basuki mendorong para pelaku industri di Jakarta untuk memikirkan penyediaan teknologi audio description dalam pembuatan film mereka. Budi Sumarno menjajaki potensi platform sejati di mana kreativitas dan aksesibilitas bersatu, menginspirasi awak sinema muda untuk “berinovasi bukan meniru.” Jadi, cerita Basuki yang melampaui batas anehnya visual kini menjadi benchmark baru, dimana Langit Tetap Sama menjadi manifestasi nyata bahwa langit tetap sama bagi setiap penyintas, bukan hanya satu perspektif.
Dengan penutupan konferensi yang diiringi sorak sorai penonton, Basuki meyakinkan bahwa kebenaran film inklusif tidak bersasar pada lebih dari satu kelompok. Ia mengingatkan, “Film harus dapat dimengerti oleh siapa pun, tanpa menuntut adanya penyesuaian signifikan. Mari kita bawa mata dan hati bersatu di dalam durasi 70 menit yang dipenuhi arti.” Di sinilah magisnya berhasilnya Basuki menulis produk baru: baginya, ceritanya tak hanya tentang film, melainkan tentang percaya diri; tentang menyampaikan pesan, sekaligus membuka jalan bagi semua penonton.
Artikel Terkait
Wulan Guritno Bawa Hati di Marathon 3k Anak Disabilitas
27 Juli 2026
Sutradara Tunanetra Basuki Ungkap Cara Menghadapi Film
26 Juli 2026
Mathias Muchus Terharu Berakting Anak Disabilitas
25 Juli 2026
Ajil Ditto Akting Bersama Anak Disabilitas di Film Istimewa
25 Juli 2026
Film Inklusif Basuki Langit Tetap Sama Ubah Perfilman
24 Juli 2026
Sisca Saras Menampilkan Pesona di Fashion Carnaval Jember
27 Juli 2026
Andrew Andika Beralih Bisnis Baru, Tinggalkan Dunia Hiburan
27 Juli 2026
Fedi Nuril Jadi Kiper Tarkam Film, Tadah Cedera di Lapangan
27 Juli 2026
Memuat komentar...