Awi Suryadi Garap Film Perumahan Laddaland, Lebih Mudah Bikin Remake atau Adaptasi Buku?

BeritaLokal, Jakarta – Selain memperkuat kembali jam terbang dalam industri film Tanah Air, Awi Suryadi kini juga mengeksplorasi jalan baru untuk menggarap Perumahan Laddaland, sebuah film yang berpotensi menjadi contoh sukses adaptasi buku ke layar lebar. Film ini akan dirilis pada 13 Agustus 2026, disutradarai Awi Suryadi yang juga menjuarani film Claudia/ Jasmine (2008) dengan lima nominasi Piala Citra FFI.

Pada 2019, Awi Suryadi pernah membuat remake dari film Korea Selatan Whispering Corridors, berjudul Sunyi. Kali ini, ia menghadapi tantangan baru: memperkuat kualitas adaptasi buku Laddaland dengan menetapkan bahwa “kita tidak boleh terjebak pada visual asli.” Menurut Awi Suryadi, referensi visual yang sudah ada membuat proses adaptasi lebih mudah. Namun, ia tetap meminta tolong asisten untuk menghindari kecenderungan “plek-plek” sama dengan versi asli.

Pemeran utama film ini adalah Titi Kamal dan Andri Mashadi, dengan konsep yang menitikberatkan pada isu kekerasan dalam rumah tangga. Sementara itu, Manoj Punjabi, produser MD Pictures, mengungkapkan perasaannya saat membeli hak adaptasi Laddaland. Ia menyebut alasan utama adalah karena ia merasa “greng” saat menonton trailer film tersebut. Selain itu, pertanyaan tentang siapa sutradara yang akan menggarap remake juga menjadi kunci keputusan.

Faktor penting dalam proses ini adalah kepemimpinan Awi Suryadi. Manoj Punjabi menyatakan bahwa “saya sangat yakin” jika sutradara terpilih, maka film akan berjalan dengan baik. Ia mengakui bahwa menetapkan standar dan barometer kualitas menjadi tantangan, tetapi itu membuat proses lebih mudah diatur.

Dalam proses adaptasi, Awi Suryadi meminta asistennya untuk “nonton” adegan yang sedang diperbaiki agar tidak terjebak pada detail versi asli. Dengan demikian, ia menghindari kesalahan visual yang bisa menurunkan kualitas adaptasi.

Perumahan Laddaland dijadwalkan meramaikan industri film Indonesia dengan konsep yang lebih mudah diterima, terutama dalam konteks kekerasan rumah tangga. Film ini menggambarkan perjuangan sosial untuk menegakkan kesejahteraan dalam masyarakat.

Dengan pilihan sutradara seperti Awi Suryadi, film ini berpotensi menjadi contoh adaptasi yang sukses di tengah persaingan industri film.

error: Content is protected !!