Cinta warisan miliarder terbukti nyata dengan kekayaan anak cucu

BeritaLokal, Jakarta – Transfer kekayaan antar generasi miliarder memanas di tengah pergeseran pola pikir dan strategi investasi. Menurut data UBS, sekitar US$ 83,5 triliun dari generasi baby boomers dan pengusaha lansia akan ditransfer kepada anak-cucu mereka dalam dua dekade mendatang. Angka ini mencakup transfer sebesar US$ 6,9 triliun pada tahun 2040, menunjukkan bahwa kekayaan yang terbentuk di era revolusi industri 4.0 tidak akan sepenuhnya “dikunci” dalam satu generasi.

Dalam konteks ini, generasi pertama miliarder cenderung membangun kekayaan melalui bisnis keluarga, properti, atau saham blue-chip lokal. Namun, pendiri milenial seperti Tobias Prestel dari Prestel & Partner mengatakan bahwa mereka lebih tertarik pada investasi berdampak dan berkelanjutan, sementara generasi muda cenderung memprioritaskan pengalaman, mobilitas internasional, dan eksposur properti global. “Kekayaan bukan hanya untuk dinikmati, tapi sebagai alat mencapai tujuan tertentu,” kata Prestel.

Pola ini mengubah cara keluarga mengelola aset. UBS menemukan bahwa sekitar 53% generasi milenial di Asia-Pasifik ingin investasi privat, sementara 62% cenderung mempelajari mata uang kripto. Generasi muda juga lebih nyaman dengan risiko, dengan 78% di kawasan Asia-Pasifik menginginkan peluang mengalahkan pasar dibanding 38% baby boomers. “Mereka tidak hanya ingin uang, tapi untuk membangun masa depan,” tambah ahli keuangan.

Namun, tantangan terbesar adalah perbedaan dalam manajemen warisan. Hart dari Legacy Wealth Advisors mengatakan bahwa keretakan di keluarga seringkali bukan karena kurang uang, melainkan komunikasi yang buruk. “Kekayaan harus dikelola dengan tanggung jawab,” kata Hart. Tantangan ini terlihat dalam perselisihan keluarga meskipun ada rencana suksesi.

Dengan transfer kekayaan semakin global, strategi penataan aset dan transparansi menjadi kunci. UBS menegaskan bahwa keberhasilan transfer bergantung pada siapakah yang menerima tanggung jawab-bukan hanya struktur aset. “Kekayaan bukan sekadar diperoleh, tapi diurus dengan hati,” ujar sumber terkait.

Peningkatan ini juga mencerminkan perubahan global dalam pendidikan, investasi, dan prinsip kekeluargaan. Dengan demikian, miliarder harus siap mengubah cara mereka mempertahankan kekayaan untuk menempuh masa depan yang lebih dinamis.

error: Content is protected !!