Pelemahan Rupiah Jadi Peluang Bagi Bisnis Hotel

BeritaLokal, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi peluang bagi bisnis perhotelan untuk menggenjot okupansi. Tren ini tidak selalu berdampak negatif, karena kondisi tersebut justru bisa meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan permintaan kamar di destinasi wisata yang memiliki daya tarik unik.

Direktur Utama PT Hotel Sahid Jaya International, Tbk, Hariyadi Sukamdani, mengatakan bahwa pelemahan rupiah memberikan kesempatan untuk meningkatkan okupansi hotel, meskipun peningkatan tersebut masih terasa bertahap dan tidak merata di seluruh wilayah. “Kami melihat trennya walaupun belum signifikan, tapi ada perubahan dalam beberapa lokasi yang memiliki daya tarik wisata,” kata dia dalam Public Expose RUPST PT Hotel Sahid Jaya International Tbk, Jumat (19/6/2026).

Menurut Hariyadi, pelemahan rupiah membuat biaya berwisata di Indonesia relatif lebih murah bagi wisatawan asing. Kondisi ini berpotensi mendorong peningkatan kunjungan ke destinasi wisata dan menggerakkan tingkat hunian hotel. Namun, dampaknya masih bertahap karena belum merata di seluruh daerah. “Peningkatan okupansi saat ini baru mulai terlihat di sejumlah lokasi yang memiliki daya tarik wisata maupun agenda berskala besar,” jelasnya.

Salah satu indikator awal yang mulai terlihat adalah meningkatnya pemesanan kamar untuk konser BTS yang akan berlangsung pada Desember 2026. “Kami mencatat peningkatan reservasi kamar, termasuk konser BTS, mulai banyak pesanan,” kata Hariyadi. Acara berskala internasional seperti konser musik Korea Selatan ini mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah dan luar negeri, memberikan efek berganda bagi sektor akomodasi.

Peningkatan reservasi yang terjadi beberapa bulan sebelum acara berlangsung mencerminkan minat masyarakat terhadap kegiatan hiburan. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi industri perhotelan, yang selama ini mengandalkan kombinasi wisata, bisnis, dan hiburan untuk menjaga tingkat okupansi.

Pada saat yang sama, pelemahan rupiah juga memperkuat daya tarik Indonesia sebagai destinasi pariwisata. Dengan harga jual produk turis relatif lebih terjangkau, para wisatawan asing lebih mudah menemukan opsi perjalanan yang sesuai dengan budget mereka. Namun, keberhasilan dalam meningkatkan okupansi hotel bergantung pada ketersediaan fasilitas, layanan, dan strategi promosi yang tepat.

Sementara itu, pihak hotel juga perlu memperhatikan faktor lain seperti kualitas penanganan reservasi, ketersediaan kamar, serta keberadaan tempat hiburan di sekitar lokasi. Dengan kombinasi strategi ini, bisnis perhotelan dapat menikmati peluang dari pelemahan rupiah tanpa mengorbankan standar layanan.

BeritaLokal, Jakarta, Kondisi ekonomi global yang terus berubah memberikan ruang bagi sektor pariwisata untuk menyesuaikan kebijakan dan strategi operasional. Dalam konteks ini, pelemahan rupiah menjadi momentum penting bagi perhotelan untuk memperkuat posisi di pasar wisata Indonesia.

error: Content is protected !!