BeritaLokal, Jakarta – Penguatan Rupiah Terganggu Kenaikan BI Rate, Pengamat: Pasar Masih Loyo
Kabar kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% pada Kamis (18/6/2026) justru memperparah kelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meski BI mengklaim kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar, pasar masih menilai pergerakan rupiah tidak sekuat harapan.
Pengamat pasar Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga tidak mampu membangun kepercayaan pelaku pasar. “Perubahan BI Rate justru membuat rupiah melemah, meski dulu sempat naik karena sentimen positif,” kata dia dalam wawancara dengan Media. Assuaibi menyoroti bahwa respons pasar lebih dominan dipengaruhi faktor eksternal daripada kebijakan moneter domestik.
Pasar memperlihatkan ketidakpuasan terhadap kenaikan BI Rate, meski Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut tujuan utamanya adalah stabilitas nilai tukar. “Bank Indonesia berharap suku bunga bisa menjadi alat stabilisasi, tetapi pasar menolaknya karena tidak memenuhi ekspektasi,” kata Warjiyo dalam konferensi pers.
Kepemilikan Asing di SRBI Bantu Penguatan Rupiah
Pada 15 Juni 2026, kepemilikan nonresiden (asing) terhadap instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai 23,3 persen dari total outstanding. Data ini meningkatkan daya saing rupiah terhadap dolar AS. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut kenaikan kepemilikan asing menjadi “sinyal kuat” untuk penguatan nilai tukar. Pada 17 Juni 2026, kurs rupiah naik 0,76 persen ke level Rp 17.730 per dolar AS, menggantikan penutupan sebelumnya di Rp 18.188.
Sukses Penguatan IHSG dan Rupiah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kenaikan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026 telah berdampak positif. IHSG menembus level 5.746,64, naik 7,57 persen, sementara kurs rupiah menguat 130 poin ke Rp 18.058 per dolar AS. Hartarto menyebut kenaikan suku bunga tergantung pada stabilitas ekonomi dan respons pasar. “Kita harus tetap memperkuat ekonomi, karena dasarnya kuat,” kata dia.
Ketidakpastian Global Mempengaruhi Pasar
Meski BI mengambil kebijakan stabilisasi, pasar masih menantikan sinyal yang lebih jelas untuk mengurangi ketidakstabilan global. Assuaibi memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga mungkin tidak cukup untuk membantu rupiah menguat. “Pasar belum melihat BI Rate sebagai solusi efektif untuk menopang nilai tukar di tengah ketidakpastian,” kata dia.
Dengan demikian, meski ada penguatan khusus pada hari ini, pergerakan rupiah masih terkendali oleh faktor eksternal yang lebih dominan.