BeritaLokal, Jakarta – Pasar kripto mengalami pergerakan yang beragam pada perdagangan Selasa (16/6/2026), dengan investor tetap mempertahankan sikap hati-hati terhadap kepastian penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Meski sentimen global sedikit membaik setelah munculnya kabar kesepakatan, harga kripto tetap berada dalam zona perhatian karena dinamika politik dan ekonomi yang masih kompleks.
Bitcoin (BTC) mencatat kinerja yang relatif stabil pada hari tersebut. Harga Bitcoin sempat menembus level US$ 67.000 atau Rp 1,18 miliar sebelum kembali terkoreksi ke level US$ 66.000. Pada perdagangan Selasa, harga BTC naik 0,3% dalam 24 jam dan menguat 4,8% dalam sepekan. Namun, pergerakan ini masih diimbangi oleh ketegangan terkait keberlanjutan perdamaian AS-Iran yang masih menyisakan ketidakpastian.
Pertumbuhan Ether (ETH) mencatat kinerja yang lebih kuat dengan kenaikan 2,8% menjadi US$ 1.764 atau Rp 31,28 juta. Aset kripto ini telah menguat 5,8% dalam sepekan. Sementara Solana naik 3,2% ke level US$ 73, XRP menguat 3,2%, dan token HYPE milik Hyperliquid memimpin penguatan kelompok aset digital utama dengan lonjakan 6,3%.
Kondisi pasar kripto terpengaruh oleh dinamika geopolitik. Kepastian penandatanganan kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni, menjadi faktor utama keraguan investor. Presiden AS Donald Trump dan Wakilnya JD Vance telah menandatangani salinan elektronik nota kesepahaman, sementara penghentian program nuklir Iran tetap menjadi syarat penting untuk keberlanjutan perjanjian.
Selain itu, arus dana ETF Bitcoin spot di AS mengalami penarikan yang signifikan. Pada pekan terakhir, arus keluar dana mencapai US$ 3,4 miliar atau Rp 60,3 triliun, menjadi salah satu periode penarikan terbesar sejak produk tersebut diluncurkan. Meski tren ini mulai berhenti, investor institusi masih belum kembali masuk secara signifikan.
Pergerakan kripto juga dipengaruhi oleh keputusan bank sentral, seperti Federal Reserve, yang akan memperhatikan dinamika suku bunga dan pembahasan Undang-Undang CLARITY. Perubahan regulasi dalam jangka pendek menjadi faktor penentu bagi investor.
Dalam wawancara dengan Jimmy Xue, Co-Founder dan COO Axis, ia menilai pergerakan Bitcoin yang relatif datar menunjukkan pasar masih mengalami keraguan. “Pasar tetap menyimpan keraguan karena ini merupakan upaya gencatan senjata ketiga antara kedua negara,” kata Xue.
Sementara itu, Chris Perkins, Calon Kepala Franklin Crypto di Franklin Templeton, menegaskan bahwa kondisi saat ini konstruktif bagi aset berisiko. “Setelah IPO SpaceX yang menyedot likuiditas, membaiknya kondisi makro dapat mendorong kembali minat investasi ke pasar kripto,” katanya.
Kondisi pasar terus menunggu penandatanganan resmi perjanjian pada 19 Juni. Investor dinilai belum sepenuhnya yakin tentang dampak jangka panjang kesepakatan tersebut terhadap pasar keuangan global, termasuk kripto.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.