Yum Brands Lepas Bisnis Pizza Hut Rp 47,88 Triliun

BeritaLokal, Jakarta – Yum Brands, induk usaha restoran cepat saji asal Amerika Serikat, melangkah ke tahap akhir dalam perusahaan pembelian bisnis Pizza Hut kepada dua pihak yaitu LongRange Capital dan Yum China. Transaksi ini akan rampung pada kuartal III 2026, menunjukkan langkah strategis untuk memaksimalkan nilai bisnis dan meningkatkan struktur kepemilikan di berbagai pasar.

Dalam dua transaksi terpisah, LongRange Capital mengakuisisi sebagian besar bisnis Pizza Hut sekitar US$ 1,5 miliar atau Rp 26,60 triliun, sementara Yum China mengambil alih operasional Pizza Hut di China sekitar US$ 1,2 miliar atau Rp 21,28 triliun. Total dana yang diperoleh Yum Brands diprediksi mencapai US$ 2,3 miliar atau Rp 40,7 triliun setelah pajak dan biaya operasional.

Keputusan ini diambil setelah Pizza Hut menghadapi tekanan bisnis dari persaingan seperti Domino’s Pizza dan layanan pesan antar-pengguna (third-party delivery) seperti DoorDash. Menurut Yum Brands, pernyataan strategis ini bertujuan untuk memperkuat posisi mereka di pasar global serta mengoptimalkan nilai saham pemegang saham.

Pada kuartal III 2026, transaksi akan selesai setelah mendapat persetujuan regulator. Dalam dokumen regulator, Pizza Hut memiliki hampir 20.000 gerai di 108 negara dengan total penjualan sistem mencapai US$ 12,8 miliar atau Rp 227,03 triliun. Pasar Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan kontribusi sekitar 40%, sementara China menyumbang 20%.

Yum Brands, yang juga mengelola lebih dari 63.000 restoran di 155 negara, menegaskan bahwa kinerja bisnis Pizza Hut akan tetap terpantau secara ketat. Pada saat yang sama, pasar saham Amerika Serikat (AS) dan harga minyak dunia mengalami perubahan signifikan.

Selama pekan sebelumnya, indeks Dow Jones naik 0,92% ke posisi rekor 51.671,03, sementara S&P 500 dan Nasdaq juga mencatat kinerja positif. Saat ini, harga saham SpaceX melonjak hampir 20% setelah debutnya di pasar pada Jumat lalu.

Analisis dari Zacks Investment Management menyebutkan bahwa pergerakan saham SpaceX menunjukkan tren yang lebih stabil dibandingkan tren “meme stock” sebelumnya. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan Iran untuk berakhir perang antara AS dan Iran, yang diharapkan akan memengaruhi tekanan pada FOMC dan memberikan dampak positif terhadap pasar.

Sementara itu, harga minyak mentah AS turun 4,9% ke US$ 80,75 per barel setelah baku tembak antara Israel dan Hizbullah di Lebanon menyebabkan ketidakpastian terkait kesepakatan dengan Iran. Wakil Presiden AS JD Vance memperkirakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya jangka panjang, yang berpotensi meningkatkan harga minyak global.

Perubahan ini mengarah pada sinyal kuat bagi pasar, terutama dalam kaitan dengan FOMC dan tekanan harga minyak. Peningkatan harga minyak mentah ke US$ 80 menjadi indikator yang mendorong perbaikan tren harga produk olahan seperti bahan bakar jet.

error: Content is protected !!