BeritaLokal, Jakarta – Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengungkapkan perhatian terhadap kenaikan harga Pertamax yang berpotensi memengaruhi penggunaan BBM di masyarakat. Dalam wawancara dengan situs resmi, Sarman menjelaskan bahwa peningkatan harga Pertamax dapat menimbulkan pergeseran permintaan ke produk BBM lain seperti Pertalite.
Sarman menyebutkan, kenaikan harga Pertamax yang terjadi sejak 10 Juni 2026 dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter serta Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, memicu perubahan dalam penggunaan BBM di sektor transportasi dan masyarakat luas. “Pengguna Pertamax saat ini terutama kelompok ojol dan warga biasanya mengalami tekanan biaya operasional yang meningkat,” kata Sarman.
Meski demikian, Sarman menekankan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak berdampak langsung pada produk subsidi seperti Pertalite. “Harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800/liter,” terangnya. Kebijakan ini ditetapkan setelah pertemuan koordinasi dengan pemerintah sebagai regulator, menurut penjelasan Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun.
Pertamina menyatakan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan bagian dari tata kelola energi yang bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis, kualitas layanan, dan pasokan energi. “Harga jual Pertamax dan Pertamax Green diatur sesuai mekanisme evaluasi pemerintah,” ujar Dumatubun.
Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta memastikan stok BBM tetap terpenuhi. Pertamina Patra Niaga menurunkan harga Pertamax umum dari Rp14.000 menjadi Rp12.000 per liter untuk menjaga ketersediaan pasokan. Masyarakat dapat mengakses informasi harga terbaru melalui kanal resmi Pertamina, seperti aplikasi MyPertamina.
Kenaikan harga Pertamax juga diperkirakan menimbulkan dampak pada sektor usaha kecil dan ojol. Sarman menyebutkan, pengeluaran masyarakat dan pelaku usaha transportasi akan meningkat jika tetap memilih Pertamax. “Penggunaan Pertalite bisa melonjak drastis karena pergeseran permintaan,” paparnya.
Dalam penjelasan tambahan, Sarman menegaskan bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak ikut naik. Pemangku kepentingan di sektor energi mengatakan, langkah ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan dan kualitas layanan untuk masyarakat secara optimal.
Kebijakan ini diimplementasikan sesuai mekanisme evaluasi harga minyak dunia dan pasar keekonomian. Pertamina menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi akan terus berjalan dengan koordinasi pemerintah untuk menjaga keseimbangan ekosistem industri energi di Indonesia.