Trump Mengancam Serangan ke Iran Bikin Harga Minyak Melejit

BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak WTI dan Brent kembali menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Iran dengan “sangat keras”, memicu kekhawatiran perang global. Ancaman tersebut menciptakan gelombang ketegangan di pasar energi, terutama karena krisis pasokan minyak yang semakin parah.

Dalam perdagangan Rabu (10 Juni 2026), harga WTI naik 2,07% ke level US$ 90,03 per barel, sementara Brent melonjak 1,8% menjadi US$ 93,10. Pergerakan ini disebutkan oleh CNBC sebagai reaksi terhadap ancaman Trump, yang pada Rabu malam mengklaim bahwa Iran telah menembak jatuh helikopter Apache AS di kawasan Selat Hormuz. Serangan itu dinyatakan sebagai respons defensif, meski Trump menyebut Iran akan membalas tindakan tersebut.

Trump juga mengungkapkan bahwa militer AS secara diam-diam telah membantu 200 kapal komersial dan lebih dari 100 juta barel minyak melewati Selat Hormuz, menurutnya mencegah harga minyak melonjak lebih tinggi. Operasi rahasia ini disebutkan sebagai upaya untuk mengurangi risiko konflik, meski tidak menyebutkan detail spesifik.

Pada Senin (8 Juni), pemerintahan Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz bisa tercapai dalam “dua atau tiga hari”. Namun, hingga saat ini, kesepakatan resmi belum terwujud. Meski demikian, Trump tetap mempertahankan tekanan pada Teheran, mengklaim bahwa Iran masih berada di luar konflik yang dapat menimbulkan kejadian besar.

Krisis pasokan minyak terjadi setelah produksi sebesar 11,8 juta barel per hari di enam produsen teluk hampir berhenti, menyebabkan gangguan paling parah dalam sejarah modern. Rystad Energy memperkirakan kerugian produksi kumulatif mencapai 1 miliar barel, dengan risiko tambahan 350 juta barel per bulan jika konflik terus berlanjut.

Selain itu, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz meningkat signifikan sejak Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan arus ekspor minyak mulai menunjukkan peningkatan. Menurut analis JPMorgan, volume minyak yang melewati jalur strategis tersebut mungkin jauh lebih besar daripada data publik. Operasi rahasia militer AS di kawasan Teluk Persia diperkirakan telah membantu kapal tanker keluar dari kawasan yang masih diliputi ketegangan geopolitik.

Meski demikian, harga minyak terus melemah karena kekhawatiran terhadap konflik antara Iran dan Israel. Serangan Israel di Lebanon dan balasannya oleh Iran telah memicu gencatan senjata yang sebelumnya nyaris runtuh. Trump mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menghentikan eskalasi, meski pihak berwenang Israel menyatakan telah henti serangan.

Krisis pasokan minyak terus memperparah ketegangan di pasar global, dengan harga minyak dunia terus menurun meski ancaman Trump terus menghantui. Dalam laporan JPMorgan, volume minyak yang melintasi Selat Hormuz ternyata masih cukup besar, bahkan dalam situasi keamanan yang sangat ketegangan.

Kondisi ini memperkuat tekanan pada Teheran untuk menyelesaikan kesepakatan dengan AS, meski belum terwujud. Sementara itu, krisis pasokan minyak dan ancaman konflik memperlihatkan bahwa perang tidak hanya bisa muncul di wilayah geografis tertentu, tetapi juga berdampak luas pada pasar global.

error: Content is protected !!