Menguat Usai BI Rate Naik, Ke Mana Arah Rupiah Hari Ini

[BeritaLokal], Jakarta – Dalam upaya menghadapi tekanan global yang melanda pasar keuangan, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah tegas dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen, sebuah keputusan yang langsung berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah. Peningkatan tersebut, yang diumumkan pada Selasa (9/6/2026), diperlukan untuk menanggulangi fluktuasi nilai tukar yang disebabkan oleh gejolak politik dan ekonomi global, khususnya konflik di Timur Tengah, serta untuk menjaga inflasi tetap dalam target 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah untuk tahun 2026-2027.

Pada pagi hari Selasa, rupiah sempat mengalami pelemahan tajam, mencapai level Rp 18.229 per dolar AS, setelah dihantui tekanan dari pasar internasional yang menganggap risiko geopolitik akan meningkat. Pada pukul 07.05 WIB, menurut data Google Finance, kurs rupiah berada di Rp 18.025 per dolar AS, namun hanya beberapa menit kemudian, pada pukul 07.10 WIB, tekanan ini memuncak, mencapai titik terendah dalam sesi pagi tersebut.

Namun, perubahan drastis terjadi setelah BI mengumumkan keputusan kenaikan suku bunga. Dengan keputusan ini, BI menegaskan komitmen kuat terhadap stabilitas ekonomi domestik dan pengendalian inflasi, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga daya tarik investasi asing di Indonesia. “Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Pemerintah,” jelas Perry Warjiyo, dalam keterangan tertulis BI.

Dampaknya terasa langsung. Pada siang hari, rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan. Berdasarkan data Google Finance yang dipantau pada pukul 17.14 WIB, dolar AS sempat melemah terhadap rupiah, mencapai level Rp 17.983. Pada penutupan perdagangan Selasa sore, rupiah menguat 130 poin atau 0,71 persen menjadi Rp 18.058 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 18.188 per dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa pasar awalnya sangat sensitif terhadap keputusan BI, namun responsnya positif setelah keputusan moneter diterapkan.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai bahwa penguatan ini merupakan hasil alami dari kebijakan BI. “Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah,” tambahnya. Ia juga memperkirakan bahwa rupiah akan mengalami tekanan kembali pada perdagangan hari ini, dengan rentang fluktuasi antara Rp 18.050-18.100.

Sejak awal tahun, rupiah telah melemah sekitar 10 persen, dari level Rp 16.683 per dolar AS pada awal tahun hingga mencapai titik terendah di awal sesi pagi Selasa. Namun, dengan keputusan BI yang dianggap strategis dan terkoordinasi, pasar menunjukkan kepercayaan bahwa kebijakan tersebut akan menjadi fondasi utama untuk menjaga keseimbangan ekonomi. Langkah ini juga diharapkan dapat mendorong aliran investasi portofolio asing kembali masuk, dengan tujuan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik dan memperkuat kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Dengan keputusan ini, BI tidak hanya menanggapi tekanan pasar, tetapi juga menunjukkan komitmen kuat terhadap kontrol inflasi dan stabilitas nilai tukar, dua elemen kunci dalam menjaga keberlanjutan ekonomi berbasis pasar terbuka.

error: Content is protected !!