[BeritaLokal], Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah secara tajam pada hari ini, Senin (8/6/2026), mencapai level Rp 18.129 per dolar AS. Prediksi pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, menunjukkan bahwa pelemahan mata uang Garuda ini tidak hanya berada di titik awal, tapi berpotensi mencapai Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan Juni 2026, sebuah level yang menunjukkan tekanan signifikan terhadap stabilitas nilai tukar nasional.
Pergerakan kurs rupiah ini tidak terjadi secara acak. Ia merupakan hasil dari interaksi kompleks antara dinamika global dan kondisi domestik yang semakin memperketat tekanan pada aset berisiko di pasar negara berkembang. Faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS, menurut Ibrahim, adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara AS dan Iran, serta serangan Iran terhadap sekutu AS di kawasan Selat Hormuz, termasuk Kuwait dan Uni Emirat Arab. Dampaknya, pasar global mulai mengalihkan aset ke dolar AS sebagai “aset aman” dalam kondisi ketidakpastian geopolitik yang terus memanas.
Selain itu, ketegangan antara Israel dan Hamas, serta konflik di Lebanon Selatan, menambah beban psikologis bagi investor global yang mencari perlindungan terhadap risiko. Dalam konteks ini, dolar AS tidak hanya menjadi “perisai”, tetapi juga “pembawa harga”, karena kenaikan harga minyak dunia yang terjadi secara global secara langsung memperbesar tekanan terhadap neraca berjalan Indonesia, yang secara konsisten mengalami defisit energi dan kebutuhan dolar yang meningkat.
Faktor eksternal juga tidak bisa dipisahkan dari kebijakan moneter AS. Ibrahim menilai bahwa Bank Sentral AS, yang dipimpin oleh Kevin Warsh, memiliki peluang untuk mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan mungkin menaikkan suku bunga pada kuartal IV 2026. Ini didukung oleh data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan, serta ketahanan inflasi yang tetap tinggi. Selain itu, kemungkinan intervensi politik dari presiden AS Donald Trump juga sangat kecil, mengingat kebijakan moneter AS tidak akan mudah diubah oleh tekanan politik, apalagi jika inflasi masih berada di level yang tidak terkontrol.
Di sisi domestik, beban ekonomi terus membesar. Kenaikan harga minyak dunia telah berdampak langsung pada defisit anggaran pemerintah yang diperkirakan mendekati 3% dari PDB. Selain itu, surplus neraca perdagangan yang mulai menyempit, yang seharusnya menjadi “penjaga” nilai tukar, kini menjadi ancaman, terutama ketika diperkuat oleh peringkat utang Indonesia yang diperkecil oleh Moody’s. Peringkat negatif ini bukan hanya menurunkan kepercayaan pasar, tetapi juga mendorong investor untuk mempertimbangkan “kemungkinan terburuk” dalam keputusan investasi.
Dengan kombinasi ketegangan geopolitik, kebijakan moneter AS yang stabil, dan kondisi domestik yang semakin memburuk, rupiah tidak hanya mengalami pelemahan, tetapi juga berada di jalur yang menunjukkan bahwa tekanan eksternal dan domestik telah membentuk “kondisi baru” yang berpotensi mengubah dinamika pasar mata uang Indonesia. Dengan prediksi bahwa rupiah bisa mencapai Rp 19.000 per dolar AS pada akhir Juni 2026, pasar dunia sekarang berada di titik kritis, di mana setiap pergerakan harga minyak, kebijakan moneter, dan perkembangan geopolitik akan menjadi pendorong utama dalam menentukan arah nilai tukar Garuda.
Artikel Terkait
Rupiah Tegar Tambah Lebih 18,093, Pasar Tunggu Gubernur BI
28 Juli 2026
Nilai Rupiah Turun ke 18.070 di Tengah Geopolitik
28 Juli 2026
Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Mereda
28 Juli 2026
Bank Indonesia Mantap Kebijakan Stabil Menenangkan Pasar
27 Juli 2026
Rupiah Tembus 18.009, Kurs Rupiah Turun Hari Ini
27 Juli 2026
Perampingan BUMN Lebih Dari 250 Perusahaan Lepas Akhir Juli
27 Juli 2026
Bank Indonesia, APINDO Minta Transisi Kepemimpinan Cepat
27 Juli 2026
Harga Perak Antam Naik Rp 850, Menguat di Pasar Indonesia
27 Juli 2026
Memuat komentar...