Rupiah Makin Melemah, Pagi Ini Tembus Rp 18.162 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah melemah ke Rp 18.162 per dolar AS pada perdagangan Senin ini. Kenaikan harga minyak menekan rupiah.

PerbesarNilai tukar rupiah pada Senin (8/6/2026) pukul 10.50 WIB. (Tangkapan layar Google Finance)

, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Senin pagi (8/6/2026). Pada pembukaan perdagangan, mata uang Garuda tercatat melemah 71 poin atau 0,39 persen menjadi Rp 18.107 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp 18.036 per dolar AS.

Menjelang siang, rupiah terus mengalami tekanan. Pada pukul 10.50 WIB, dikutip dari Google Finance, rupiah terus mengalami tekanan ke level Rp 18.162 per dolar AS. Tak berbera jauh, dikutip dari kurs Bloomberg, rupiah berada di level Rp 18.168 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih kuat.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang mendorong tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Harga minyak yang kembali naik oleh eskalasi baru di Timteng juga ikut menekan rupiah,” ujarnya dikutip dari Antara.

Ketegangan terbaru muncul setelah Iran dilaporkan meluncurkan sejumlah rudal ke wilayah utara Israel pada Minggu malam waktu setempat. Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Teheran mengancam akan membalas serangan udara Israel yang menyasar pinggiran Beirut, Lebanon.

Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Akibatnya, harga minyak kembali bergerak naik dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

 

Data ketenagakerjaan AS

PerbesarTeller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta, Jumat (2/2). Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berada di level Rp13.700 hingga Rp13.800.(/Angga Yuniar)

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari ekspektasi.

Menurut Lukman, laporan Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan penambahan lapangan kerja yang cukup solid sehingga memperkuat prospek ekonomi AS dan mendukung penguatan dolar AS.

“Penambahan pekerjaan dari sektor pemerintah 55 ribu pekerjaan, rekreasi dan perhotelan 70 ribu pekerjaan menjelang Piala Dunia,” ungkap Lukman.

Data ketenagakerjaan yang positif meningkatkan ekspektasi bahwa ekonomi AS masih berada dalam kondisi kuat. Kondisi tersebut biasanya mendorong investor memburu aset berdenominasi dolar AS, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang lain, termasuk rupiah.

Di tengah kombinasi sentimen tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif dalam jangka pendek. Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta arah kebijakan ekonomi AS yang berpotensi memengaruhi arus modal global.

Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS. Rentang tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian yang masih membayangi pasar keuangan global.



error: Content is protected !!