Mengurangi Dominasi Dolar AS, Indonesia Barter dengan Filipina

BeritaLokal, Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia melalui kerja sama barter dengan negara tetangga, terutama Filipina. Upaya ini diambil sebagai respons atas pelemahan nilai tukar rupiah yang berdampak pada kebijakan impor dan ekspor.

“Kita sedang menjajaki peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS melalui barter dengan negara-negara tetangga,” kata Budi Santoso saat diwawancarai, Kamis (4/6/2026). Dalam pertemuan tingkat ASEAN beberapa waktu lalu, pemerintah mendiskusikan peluang kerja sama ekspor impor yang berbasis barter. Kebijakan ini dipilih sebagai alternatif untuk mengurangi dampak pelemahan rupiah, yang telah mempengaruhi kebijakan perdagangan internasional.

Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 25,3 miliar, naik 21,98 persen dibandingkan April 2025. Dalam periode Januari-April 2026, total ekspor tercatat US$ 92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dari tahun sebelumnya. Meski surplus perdagangan meningkat, Budi tetap mengantisipasi dampak harga barang impor yang berpotensi naik.

“Kita perlu memastikan ketersediaan bahan baku importir untuk mencegah penurunan produksi,” kata Budi. Ia menekankan pentingnya monitoring distribusi dan ketersediaan produk pangan pokok, seperti telur dan gula, yang saat ini dalam kondisi surplus. “Stok bahan pokok normal sudah memenuhi kebutuhan nasional, bahkan harga telur masih surplus,” tambahnya.

Pada saat bersamaan, nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada Kamis pagi, 4 Juni 2026. Perubahan ini memperkuat kesempatan ekspor Indonesia, meski terdapat risiko naiknya harga barang impor. Budi mengatakan bahwa pemerintah akan memantau kebijakan pasar dan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.

Sementara itu, eksportir di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok mencatat surplus perdagangan yang terus bertambah. Dalam periode Juni 2024, surplus ekspor mencapai US$ 20,84 miliar, sementara impor sebesar US$ 18,45 miliar. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan memperkuat stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.

Kerja sama barter dengan Filipina diharapkan menjadi salah satu langkah penting dalam penguatan ketahanan ekonomi Indonesia. Dengan upaya ini, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meningkatkan fleksibilitas dalam menangani kondisi pasar yang dinamis.

Artikel Terkait

0