BeritaLokal, Jakarta – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menghadapi tantangan signifikan pada tahun 2026 akibat dampak geopolitik dan perubahan nilai tukar rupiah. Meski berhasil mencatat laba di kuartal I 2026, manajemen perusahaan menilai tekanan eksternal semakin kuat pada periode kuartal II hingga IV.
Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, mengatakan bahwa konflik geopolitik global telah memengaruhi harga energi, biaya logistik, serta biaya bahan baku industri. “Kami melihat kuartal II hingga IV nanti sebagai periode dengan ‘headwinds’ yang berpotensi meningkat,” katanya dalam konferensi pers.
Djagad menjelaskan bahwa faktor geopolitik memengaruhi sektor farmasi karena ketergantungan pada bahan baku impor. Peningkatan biaya transportasi juga menciptakan beban operasional yang lebih tebal, terutama bagi perusahaan yang masih mengandalkan distribusi via jalur yang lebih panjang.
Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi isu penting. Djagad berharap kebijakan pemerintah mampu menjaga stabilitas nilai tukar sehingga tekanan pada biaya produksi bisa diminimalkan. “Kami berharap kebijakan pemerintah dapat meredam tekanan tersebut,” katanya.
Meski demikian, KAEF tetap berupaya mempertahankan tren perbaikan kinerja yang mulai terlihat sejak awal tahun. Dalam anggaran, perusahaan masih menargetkan laba pada 2026, meskipun tetap memperkuat posisi “biru” dengan strategi penguatan efisiensi dan komersial.
Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KAEF, Willy Meridian, mengatakan pemulihan kinerja perusahaan sejauh ini berjalan sesuai rencana. “Kuartal I 2026 menunjukkan indikasi positif terhadap arah perbaikan,” kata Willy.
Program transformasi KAEF fokus pada efisiensi operasional dan penguatan aspek komersial. Dalam strategi tersebut, perusahaan memperkuat proses bisnis serta manufaktur untuk mengelola tekanan eksternal. “Kami tidak hanya fokus pada efisiensi, tetapi juga melakukan penguatan komersial,” katanya.
Faktor eksternal seperti fluktuasi harga minyak dan nilai tukar dolar AS sulit diprediksi. Oleh karena itu, manajemen memilih menekan aspek yang dapat dikendalikan secara internal untuk menjaga keberlanjutan perbaikan kinerja di tengah ketidakpastian global.
Perusahaan tetap optimistis meski menghadapi tantangan. “Kami tetap cautious optimism dan sedang menghitung ulang potensi kinerja karena banyak faktor yang terus bergerak,” kata Djagad.
Artikel Terkait
Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Mereda
28 Juli 2026
Rupiah Tembus 18.009, Kurs Rupiah Turun Hari Ini
27 Juli 2026
Perampingan BUMN Lebih Dari 250 Perusahaan Lepas Akhir Juli
27 Juli 2026
Harga Perak Antam Naik Rp 850, Menguat di Pasar Indonesia
27 Juli 2026
BPJPH Dorong Usaha Capai Sertifikasi Halal Oke Oktober 2026
27 Juli 2026
Harga Emas Dekat $4.000, Konflik Timur Tengah Turun Tarik
27 Juli 2026
Transmigrasi Jadi Pusat Ekonomi Baru, TEP Luncurkan
26 Juli 2026
Fed Tetap Jaga Suku Bunga di Tengah Gejolak Pasar
26 Juli 2026
Memuat komentar...