Harga Emas Dunia Anjlok Tersengat Kekhawatiran Inflasi

Prediksi inflasi karena perang di Timur Tengah menjadi sentimen yang membebani harga emas dunia.

PerbesarIlustrasi Harga Emas Hari Ini di Dunia. Foto: DAVID GRAY | AFP

, Jakarta – Harga emas turun pada Rabu, 3 Juni 2026. Harga emas dunia tertekan oleh ekspektasi inflasi akibat perang di Timur Tengah akan membuat suku bunga tetap tinggi. Sementara itu, investor fokus pada perkembangan di Timur Tengah dan data ekonomi yang akan datang.

Mengutip CNBC, Kamis, (4/6/2026), harga emas spot turun hampir 1% menjadi US$ 4.440,27 per ounce. Kontrak berjangka emas AS turun 1,1% menjadi US$ 4.468,60.

Ketegangan di Teluk kembali meningkat ketika serangan Iran terhadap Kuwait merusak bandara dan melukai puluhan orang, sementara militer AS melakukan serangan di dekat Selat Hormuz, dengan diplomasi untuk menghentikan perang menunjukkan sedikit kemajuan.

“Aktivitas emas sebagian besar didorong oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran,” kata Direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, David Meger.

“Seiring meningkatnya konflik, kenaikan harga energi diperkirakan akan meningkatkan ekspektasi inflasi. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan suku bunga, yang selanjutnya akan memperkuat dolar dan menambah tekanan penurunan pada harga emas,” ia menambahkan.

Emas batangan sering dianggap sebagai pengaman terhadap inflasi, tetapi cenderung menjadi kurang menarik sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil dalam lingkungan suku bunga tinggi.

Harga minyak naik, sementara indeks dolar AS naik untuk sesi ketiga berturut-turut. Mata uang AS yang lebih kuat membuat logam yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menegaskan kembali tidak percaya bank sentral AS perlu mengubah penetapan suku bunga jangka pendek. Namun, Presiden Cleveland Fed, Beth Hammack, mengatakan pada Selasa kalau the Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga segera jika tekanan inflasi yang sudah tinggi terus meningkat.

Perhatian juga tertuju pada data penggajian non-pertanian AS untuk Mei yang akan dirilis pada Jumat untuk mengukur arah kebijakan moneter The Fed. Laporan ketenagakerjaan nasional ADP menunjukkan penggajian sektor swasta AS meningkat lebih dari yang diperkirakan pada Mei.

Harga Emas Dunia

PerbesarIlustrasi harga emas dunia (Foto By AI)

Sebelumnya, harga emas bergerak menguat pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Indonesia). Pergerakan ini terjadi seiring langkah para pelaku pasar yang terus memantau perkembangan terbaru di Timur Tengah, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa pembicaraan dengan Iran masih terus berlangsung.

Dikutip dari CNBC, Rabu (3/6/2026), harga emas AS ditutup naik 0,3% ke level US$ 4.519,90 per ons.

Analis pasar dari Forex.com, Fawad Razaqzada, menilai bahwa arah pergerakan pasar emas saat ini sangat bergantung pada beberapa faktor makroekonomi utama.

“Tren pasar emas bergantung pada arah harga minyak, imbal hasil (yield) obligasi, dan pergerakan dolar AS. Semua faktor tersebut, pada gilirannya, saling terikat dengan situasi di Timur Tengah,” ujar Razaqzada.

Ia menambahkan, pasar saat ini cenderung kehilangan arah karena para pelaku pasar lebih memilih untuk bersikap wait and see. 

“Untuk membuat saya kembali optimistis terhadap emas, kita perlu melihat setidaknya ada momentum kenaikan baru yang menunjukkan kembalinya para pembeli. Namun saat ini, pasar tampak kurang bergairah karena partisipan sebagian besar sedang menunggu kepastian sinyal, terutama dari perkembangan di Timur Tengah,” jelasnya.

 

Sisi Geopolitik

PerbesarIlustrasi harga emas hari ini (dok: Foto AI)

Dari sisi geopolitik, kantor berita Mehr asal Iran melaporkan bahwa pihak Iran sedang meninjau proposal kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk menghentikan konflik antara kedua negara. Laporan ini muncul setelah Trump mengonfirmasi bahwa negosiasi untuk mencapai kesepakatan tersebut masih berjalan.

Sejak konflik tersebut pecah, harga emas terus berada di bawah tekanan. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi, yang kemudian melahirkan ekspektasi bahwa suku bunga akan dipertahankan di level tinggi.

Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai instrumen lindung nilai (hedge) terhadap inflasi, daya tariknya sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) cenderung meredup ketika suku bunga berada di level yang tinggi.



error: Content is protected !!