beritalokal.my.id, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi sepanjang tahun ini dinilai tidak akan menggerus prospek bisnis PT Hartadinata Abadi Tbk (HARTA). Perseroan justru melihat meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menyimpan kekayaan dalam bentuk emas menjadi penopang permintaan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk, Sandra Sunanto, mengakui bahwa pelemahan rupiah dan penurunan daya beli masyarakat memang menjadi tantangan yang perlu dicermati. Namun, di saat yang sama, minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen tabungan dan investasi terus meningkat.
“Kita lihat bahwa ada daya beli masyarakat yang akhir-akhir ini cukup mungkin dibilang menurun. Kita lihat tapi awareness atau kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menyimpan tabungan dalam produk emas itu juga semakin meningkat,” kata Sandra dalam Public Expose Hartadinata, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, kondisi ekonomi yang semakin sulit diprediksi justru mendorong masyarakat untuk mengalokasikan sebagian dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman, salah satunya emas.
Sandra mengatakan, meskipun daya beli masyarakat belakangan menunjukkan pelemahan, permintaan terhadap emas tetap terjaga karena meningkatnya kesadaran akan pentingnya memiliki aset lindung nilai.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat kini semakin memahami fungsi emas sebagai sarana penyimpanan nilai yang relatif aman di tengah gejolak ekonomi dan fluktuasi mata uang. Kondisi tersebut membuat minat kepemilikan emas tetap tinggi meskipun harga logam mulia berada di level yang semakin mahal.
“Yang kita perhatikan adalah saat ini adalah semakin tidak terprediksinya kondisi ekonomi ke depan, maka masyarakat kita harus semakin ter-eager atau punya minat yang jauh lebih tinggi bahwa dia harus mulai menyimpan tabungannya sebagian besar dalam bentuk emas,” ujarnya.
Harga Emas Tinggi Ubah Pola Permintaan
PerbesarGerai PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). (Foto: Hartadinata Abadi)
Meski demikian, Sandra tidak menampik bahwa lonjakan harga emas memberikan dampak terhadap pola konsumsi masyarakat. Menurutnya, perubahan yang paling terlihat adalah pergeseran permintaan ke produk dengan gramasi yang lebih kecil.
Harga emas yang terus menanjak membuat sebagian konsumen menyesuaikan kemampuan belinya dengan memilih produk yang lebih terjangkau. Namun, perubahan tersebut tidak berarti minat masyarakat terhadap emas menurun.
“Memang kalau kita lihat harga emas yang semakin tinggi mengakibatkan bahwa demand juga yang muncul yang lebih banyak didominasi oleh gramasi yang sekarang jauh lebih kecil. Tapi buat kami, kita melihat bahwa harga emas yang cukup tinggi sebetulnya itu tidak terlalu mempengaruhi minat masyarakat kita terhadap kepemilikan emas,” pungkasnya.
