Rupiah Makin Tertekan, Stabilitas Ekonomi dan Daya Beli Perlu Dijaga

beritalokal.my.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan melemah 82 poin ke level Rp 17.921 per dolar Amerika Serikat (AS). Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

“Jadi dalam negeri sendiri kita melihat bahwa pemerintah itu harus menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat,” kata Ibrahim kepada media, Rabu (3/6/2026).

Langkah yang dapat dilakukan antara lain memastikan ketersediaan pasokan barang, menyalurkan bantuan sosial secara tepat sasaran, serta memberikan stimulus konsumsi dan subsidi kepada masyarakat.

“Kemudian menyalurkan bantuan sosial berupa Bansos yang tepat sasaran serta memberikan stimulus konsumsi dan subsidi bagi masyarakat. Itu yang pertama,” ujar dia.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat sektor riil melalui hilirisasi industri, pengembangan ekonomi biru, dan peningkatan produktivitas sektor pertanian guna mendukung ketahanan pangan nasional.

Namun demikian, Ibrahim menilai, tantangan terbesar masih berada pada iklim investasi. Menurut dia, proses perizinan yang masih panjang dan birokrasi yang kompleks menjadi hambatan bagi masuknya investasi asing ke Indonesia.

“Jadi, pemerintah harus melakukan penyederhanaan. Dari zaman pemerintahan SBY, Jokowi selalu mengatakan bahwa kita harus menyederhanakan regulasi investasi dan transformasi digital. Tetapi pada kenyataannya sekarang lebih sulit,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah dapat mempercepat reformasi birokrasi dan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif agar mampu menarik lebih banyak investasi asing, memperkuat sektor riil, dan pada akhirnya mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Harga Minyak Tinggi Tingkatkan Permintaan Dolar AS di Dalam Negeri

PerbesarTeller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah tetap terkendali sesuai dengan fundamental. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak mentah dunia turut meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Selain itu, kebutuhan devisa juga meningkat untuk pembayaran dividen perusahaan asing dan kewajiban utang yang jatuh tempo.

Ibrahim menyebut, besarnya kebutuhan dolar tersebut menyebabkan tekanan terhadap rupiah semakin kuat. Di saat yang sama, sebagian masyarakat juga mulai mengalihkan dana dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing (valas), yang semakin meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik.

“Di sisi lain pun juga masyarakat ini sekarang terus memindahkan dananya juga ya dari tabungan konvensional menjadi tabungan valas. Ini yang membuat harga-harga juga terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” pungkasnya.

 

 

Sempat Menguat, Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan

PerbesarTeler menunjukan mata uang rupiah di Jakarta, Jumat (3/3/2023). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah ke level Rp15.311 pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah 0,20 persen atau turun 30,5 poin ke Rp15.311 per dolar AS. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (2/6/2026) hari ini ditutup melemah 34 poin di level Rp 17.839 per dolar AS, setelah ditutup menguat 76 poin di level Rp 17.805 pada perdagangan Senin, 1 Juni 2026.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu penyebab kurs rupiah semakin lemah ialah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran-AS.

Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim pembicaraan dengan Iran masih terus berlangsung, meskipun Teheran dipandang sudah apatis terhadap pesan-pesan dari Washington DC. Ketegangan ini turut diperparah oleh konflik yang melibatkan Lebanon, Israel, dan Iran.

“Ini membuat ketegangan tersendiri, sedangkan Iran sendiri menginginkan bahwa perdamaian antara Amerika dan Iran masuk juga perdamaian Lebanon,” ujar Ibrahim, Selasa (2/6/2026).

“Iran kemungkinan besar akan ikut campur dalam perang Israel-Lebanon. Ini membuat ketegangan tersendiri, membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan yang cukup signifikan,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia juga menyoroti putusan Trump yang menandatangani proklamasi perubahan tarif impor untuk tembaga, aluminium, dan besi.

“Proklamasi tersebut menurunkan tarif untuk beberapa peralatan pertanian dari 25 persen menjadi 15 persen,” sebut dia.



error: Content is protected !!