BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak dunia terus bergerak tidak pasti dalam tengah ketidakpastian konflik Iran, yang memperparah dinamika pasar energi global. Perubahan harga ini dipengaruhi oleh perbatasan antara negosiasi gencatan senjata dan kebuntuan di Selat Hormuz, kawasan strategis yang menjadi penyumbang utama pasokan minyak dunia.
Selain itu, blokade terhadap pelabuhan Iran dan penutupan selat Hormuz menyebabkan ketergangguan pada aliran minyak mentah dan gas alam cair global. Dalam perdagangan yang volatile, harga Brent naik 1% ke US$96 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 2% ke US$93,76 per barel, menunjukkan risiko lonjakan harga minyak dunia sebesar 50% sejak awal konflik.
Konflik Iran-AS terus berlangsung dalam perdebatan yang tidak sepaham. Meski Presiden AS Donald Trump mengklaim negosiasi masih berjalan, Teheran belum menyebutkan komunikasi resmi dengan Washington. Sementara itu, Israel tetap melakukan serangan di Lebanon, sementara Trump meminta Netanyahu untuk menunda serangan ke Beirut untuk mencegah eskalasi perang.
Pertahanan kawasan Selat Hormuz menjadi kunci bagi stabilitas energi global. Kebuntuan ini menghambat pasokan minyak dari Irak, Mesir, dan negara-negara lain, yang telah menurunkan operasional pelabuhan. Diperkirakan, blokade tersebut memutus sekitar 20% aliran minyak global, berdampak signifikan pada permintaan musim panas.
Analis industri energi mengatakan bahwa risiko krisis stok minyak global terancam jika situasi tidak membaik. Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa persediaan minyak global bisa merosot ke tingkat kritis atau rekor terendah sejak 2023, terutama karena pengurangan stok di Irak dan Mesir yang dipicu oleh serangan AS dan Israel.
Di Amerika Serikat, para pelaku pasar minyak menunggu laporan penyimpanan mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan data EIA untuk memprediksi dinamika harga. Kondisi ini terus memperkuat kekhawatiran bahwa perang di Timur Tengah akan mengganggu pasokan minyak dunia, bahkan sebelum puncak permintaan musim panas.
Dampak dari konflik ini tidak hanya terbatas pada pasar minyak, tetapi juga memicu lonjakan harga BBM di berbagai negara. Di Irak, operasi tambang minyak yang terganggu telah mengurangi produksi, sementara perusahaan Energi Internasional menilai bahwa situasi masih belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Sementara itu, kebijakan Trump dan Netanyahu tetap bertentangan dalam memimpin diplomasi regional. Meski terdapat upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz, keterbatasan komunikasi antar negara dan dinamika politik yang tidak sepaham membuat harapan menyelesaikan konflik masih sangat terbatas.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa ketidakpastian geopolitik terus menggerogoti stabilitas energi global, dengan potensi lonjakan harga minyak yang mungkin berdampak pada kebijakan pemerintah dan konsumen di seluruh dunia.
Artikel Terkait
Nilai Rupiah Turun ke 18.070 di Tengah Geopolitik
28 Juli 2026
Harga Emas Dunia Tembus 4.087, Investor Pantau Fed
28 Juli 2026
Singapura Tegkatkan Kebijakan Moneter, Tangani Minyak Pedas
27 Juli 2026
Harga Minyak Mundur 5% Setelah Iran Hentikan Serangan
27 Juli 2026
Harga Emas Dekat $4.000, Konflik Timur Tengah Turun Tarik
27 Juli 2026
Harga Minyak Turun Meski Ketegangan Timur Tengah Meningkat
25 Juli 2026
Harga Minyak Dunia Meleleh $100, Prabowo Peringatkan Belanja
24 Juli 2026
Harga Minyak Naik, Rupiah Lesu Menanggapi Gejolak Pasar
24 Juli 2026
Memuat komentar...