Neraca Dagang Januari

BeritaLokal, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-April 2026 mencatat surplus sebesar USD 5,64 miliar atau Rp 100,66 triliun. Data ini menunjukkan kinerja positif dari sektor komoditas nonmigas yang terus berlanjut meskipun perdagangan migas masih mengalami defisit.

Selain itu, ekspor Indonesia pada periode tersebut mencapai USD 92,15 miliar atau Rp 1.644 triliun, naik 5,48 persen dibandingkan Januari-April 2025. Peningkatan ini terutama disumbang oleh industri pengolahan yang tumbuh 9,78 persen menjadi USD 75,57 miliar. Sementara nilai impor Indonesia sebesar USD 86,51 miliar atau Rp 1.544 triliun, naik 13,40 persen dari periode sama tahun lalu.

Pasar ekspor nonmigas menjadi penentu utama surplus ini, dengan kontribusi hingga 44,52 persen dari total ekspor nonmigas. China tetap menjadi pasar terbesar dengan nilai USD 22,76 miliar (25,93 persen), diikuti Amerika Serikat dan India. Ekspor ke China dominan pada komoditas besi/baja, nikel, serta bahan bakar mineral, sementara ekspor ke AS fokus pada mesin, elektronik, dan pakaian.

Sementara itu, impor nonmigas mencapai USD 73,58 miliar atau Rp 1.313 triliun, naik 12,70 persen, dengan China tetap menjadi negara utama asal impor (41,84 persen). Impor migas tercatat USD 12,93 miliar, tumbuh 17,58 persen.

Pada periode Januari-Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,55 miliar atau Rp 96,29 triliun, yang merupakan surplus 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa surplus ini ditopang oleh kinerja positif komoditas nonmigas, meskipun perdagangan migas masih defisit.

Ekspor nonmigas mencapai USD 66,85 miliar atau Rp 1.159,8 triliun, naik 0,34 persen dari periode sebelumnya, dengan industri pengolahan menjadi pendorong utama. Impor kumulatif pada Januari-Maret 2026 tercatat USD 61,30 miliar atau Rp 1.063,55 triliun, naik 10,05 persen dari periode sama tahun lalu.

Dengan surplus neraca perdagangan yang bertahan selama 71 bulan, Indonesia tetap menjaga keseimbangan ekonomi meski menghadapi tekanan pada sektor migas dan impor barang modal. Kinerja ini menunjukkan kekuatan pasar ekspor nonmigas dan efisiensi dalam pengelolaan impor, meskipun perlu fokus pada peningkatan nilai tambah di sektor industri pengolahan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi.

Artikel Terkait

0