beritalokal.my.id, Jakarta – Akses terhadap teknologi bukan lagi monopoli kelompok tertentu. Inisiatif konkret untuk meruntuhkan tembok eksklusivitas digital di Indonesia mulai menunjukkan hasil nyata.
Melalui program EQUAL, kolaborasi antara Microsoft dan Alunjiva Indonesia, sukses menjangkau 112.058 peserta pada gelombang kedua yang berlangsung hingga 30 April 2026.
Langkah masif ini menjadi angin segar bagi percepatan ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang inklusif di tanah air. Menariknya, mayoritas penerima manfaat program ini datang dari kelompok yang selama ini sering terpinggirkan dalam literasi teknologi.
Tercatat, sebanyak 66.574 peserta merupakan penyandang disabilitas, sementara 45.484 lainnya adalah kelompok perempuan dan pemuda.
Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir, menegaskan bahwa kolaborasi ini sengaja dirancang untuk menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Salah satu fokusnya adalah mengoptimalkan pemanfaatan teknologi berbasis AI untuk mendongkrak produktivitas harian.
“Kami mendorong pemanfaatan teknologi seperti Microsoft Copilot untuk membantu lebih banyak masyarakat, termasuk perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. Tujuannya agar mereka bisa mengembangkan keterampilan baru, meningkatkan produktivitas, dan berpartisipasi aktif dalam ekonomi digital,” ujar Dharma, dikutip dari Antara, Selasa (26/5/2026).
Sebagai informasi, program EQUAL merupakan bagian dari payung besar inisiatif elevAIte Indonesia yang diinisiasi oleh Microsoft bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sejak 2024.
Target besarnya tidak main-main, yaitu membekali satu juta talenta Indonesia dengan keahlian AI yang relevan demi menjawab tantangan transformasi digital nasional.
Jika ditarik ke belakang, sejak gelombang pertama hingga 30 Juni 2025, program EQUAL secara akumulatif berhasil merangkul hingga 211.377 peserta dari berbagai penjuru daerah.
Pendekatan Komunitas Jadi Kunci
Membawa isu teknologi tinggi ke kelompok rentan tentu bukan perkara mudah. Menyadari tantangan tersebut, Alunjiva Indonesia menerapkan strategi jemput bola melalui pendekatan berbasis komunitas.
Materi pembelajaran dikemas agar ramah disabilitas, ruang belajar dibuat inklusif, bahkan para fasilitatornya pun melibatkan rekan-rekan penyandang disabilitas sendiri.
Pendiri Alunjiva Indonesia, Nicky Clara, mengungkapkan aksesibilitas masih menjadi momok utama bagi kelompok rentan dalam menyerap teknologi baru. Oleh karena itu, pendekatan yang membumi menjadi harga mati.
“Kami percaya bahwa literasi AI perlu dibangun dengan pendekatan yang inklusif, mudah dipahami, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari,” tutur Nicky.
Nicky menambahkan, visi besar program ini adalah mengubah paradigma masyarakat terhadap kecerdasan buatan. AI tidak boleh hanya dipandang sebagai teknologi masa depan yang rumit, melainkan harus bertransformasi menjadi alat pemberdayaan nyata yang mampu membuka peluang ekonomi baru bagi semua orang.
Inklusivitas Adalah Keharusan
Dukungan terhadap langkah inklusi digital ini juga datang dari parlemen. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menilai bahwa penguasaan teknologi AI dapat menjadi jembatan strategis untuk memperluas peluang ekonomi, khususnya bagi para pelaku UMKM dan penyandang disabilitas.
“Di era digital, inklusivitas bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan,” Lestari menegaskan.
Menurutnya, penguatan keterampilan digital ini secara otomatis akan mendongkrak daya saing talenta lokal di pasar global. Transformasi digital yang sehat harus memastikan bahwa perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas memiliki ruang ekosistem yang setara untuk berkembang.
