BeritaLokal, Jakarta – Acha Septriasa Bahas Film Munafik: Melawan Iblis: Melawan Iblis, Saat Hati Manusia di Persimpangan ketika film horor tersebut akhirnya dibuka di bioskop Tanah Air pada 3 September 2026. Film yang dibintangi Acha Septriasa dan Arya Saloka, disutradarai Guntur Soeharjanto, menampilkan kisah Adam, seorang pengajar agama dan praktisi rukiah yang dipaksa berhenti karena tragedi kematian istri. Dari latar belakangnya Adam berusaha menyelamatkan Fitri, perawat sekaligus putri Mansur, yang terjerat kerasukan setelah menghapuskan imannya. Kecelakaan berulang, ketegangan mendalam, dan pertarungan batin menjadi jantung narasi yang memakan hati penonton.
Film ini, yang menggali perpaduan antara cerita lokal dan motif klasik, menyajikan perjuangan Adam yang memanggil kembali praktik rukiah akrabnya untuk menolak penaklukan iblis yang melanda Fitri. Di balik dramatika, diarahkan Guntur Soeharjanto menekankan bahwa Acha Septriasa Bahas Film Munafik: Melawan Iblis: Melawan Iblis, Saat Hati Manusia di Persimpangan menjadikan kebingungan spiritual menjadi cermin bagi penonton yang menghadapi keraguan iman. Pendekatan sutradara, yang sebelumnya dikenal dengan film “Munafik” Malaysia 2016, memanfaatkan elemen scare serta kedalaman psikologis, sehingga menciptakan kesan horor yang bersahabat dengan tema keagamaan.
“Film ini bukan hanya tentang melawan setan di luar, tetapi juga melawan keraguan yang menjerat jantung manusia,” ujar Acha di sebuah sesi media di Tangerang, Banten, pada 17 Juli 2026. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara keyakinan dan kemanusiaan, menegaskan bahwa kisah Fitri adalah cerminan bagaimana putus asa dapat merusak iman. Dengan mengutip pesan istri Adam, karakter yang diambil dari sutradara menantang penonton untuk memilih jalan iman ketika kehidupan terasa tengah berlabuh di persimpangan.
Fitri Menolak Ritual dan Tuhan
Proses memutar kejiwaan Fitri dimulai ketika ia menolak menyelesaikan ritual karena menganggap hidupnya telah berhenti. Kalimat yang tegas, “Jika Tuhan tidak mengapa, maka apa maksudnya aku berjalan?” memuncak ekstensinya di layar. Untuk menghidupkan perasaan Setan yang menjerat, Penyelarasan empat pemeran utama, Adam, Anwar, Fitri, dan kapsul rujukan anjing tiang, mereka berkolaborasi menimbulkan bulir emosi. Pencahayaan dramatis, musik subtle, serta set-up kameranya menegakkan intensitas psikologi yang memaksa penonton melanjutkan penontoriahnya.
Masalah utama di balik Fitri muncul saat ia menolak keberadaan Tuhan, tetap berjuang mempertahankan diri dari pengaruh iblis. Rasa takut ketidakpastian waktu lama memotivasi Adam untuk bertindak. Di sinilah mantra “kekhawatiran Fitri” menjadi pemicu tersakram penutup harapan, membuka peluang bagi karakter utama untuk memperhalus pesan spiritual. Makna tertentu tentang “keputusan dalam arti “tuntung atau hilang” menjadi terlintas, ketika Adam memutuskan untuk kembali melalui praktik rukiah.
Acha Persiapan Makeup Menakutkan
Pengalaman Acha dalam merias diri menjadi penting, dengan riasan wajah menyeramkan yang dilakukan di pojokan set untuk tidak mengganggu pemain lain. Menurutnya, proses makeup memakan waktu lama, sehingga ia datang lebih awal di lokasi. “Sebelum semua, saya berada di luar set dengan pakaian dan wajah berseram, menunggu untuk disiapkan,” ia jelaskan. Riasannya yang melibatkan gelap hati dan garis terbentuk pada wajah memberikan nuansa efek “setan” pada proses penayangan. Ia menambahkan bahwa pada saat makan, ia berdiri di luar, menunggu sang kolega datang, sementara gigi yang masih gelap menambah kesan tidak nyaman.
Acha mengeklaim bahwa ketegangan berada pada proses transformasi, dan fitur ini akan tetap hidup di balik layar. Ia menekankan bahwa bintang utama harus bersiap secara mental, selain fisik, karena akhirnya akan menampilkan perasaan frustasi Adam yang tak pernah berpenghargaan kepada Tuhan. Perubahan anatomi pada wajah akan menjadi bukti visual dari pertarungan batin.
Film ini merupakan produksi Unlimited Production, yang juga menampilkan Dimas Aditya dalam peran Anwar, Faqih Alaydrus, Donny Damara, dan Nova Eliza. Dengan menonjolkan kualitas sinematografi, pengaturan musik, dan dinamika karakter, film ini menarik perhatian karena menyoroti tema keagamaan yang kerap dilambangkan dalam ceritanya.
Acha berpendapat bahwa Acha Septriasa Bahas Film Munafik: Melawan Iblis: Melawan Iblis, Saat Hati Manusia di Persimpangan membawa alasan kuat untuk menutup mata: film mengevaluasi hubungan juaian seseorang dengan sang pencipta ketika situasi di dunia pada titik persimpangan.
Artikel Terkait
8 Drakor Kutukan Terpopuler yang Harus Kamu Tonton
25 Juli 2026
Film Sihir Tanah Kubur Akting Luar Biasa Adzwa Menghiasi
18 Juli 2026
Serial Carrie Bikin Kesegaran Horor Baru di Prime Video
17 Juli 2026
Acha Septriasa Membahas Peran Istri lewat Film Suamiku Lukaku
16 Juli 2026Titi Kamal Suka Berburu Hantu dan Main di Kuburan: Film Horor Indonesia Baru Mulai Tumbuh
14 Juli 2026
Titi Kamal Kembali Main Genre Horor dengan Film Perumahan Laddaland
13 Juli 2026
Rekomendasi Film Zombie Jepang Terbaik: Horor hingga Komedi
8 Juli 2026
402 RS Angker Korea: Kreativitas dan Horor di Dunia Media Sosial
8 Juli 2026
Memuat komentar...