Perusahaan Bakal Kerek Harga Akibat Tarif Dagang: Inflasi Masih Berlangsung

BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah dan ekonom Amerika Serikat (AS) kembali dibawa ke tengah perdebatan tentang dampak tarif dagang terhadap inflasi. Berdasarkan survei baru dari The Federal Reserve (The Fed), sekitar 44% perusahaan yang disurvei memperkirakan akan menaikkan harga lebih lanjut akibat kenaikan tarif, sementara 47% perusahaan jasa juga terpengaruh. Data ini mengungkapkan bahwa tingkat inflasi di AS mungkin tidak segera berubah meskipun tekanan dari tarif masih aktif.

Sejak awal tahun 2020, kenaikan tarif dagang menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi ekonomi AS. Menurut penelitian Yahoo Finance, survei ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan menghadapi tekanan harga yang berlangsung selama beberapa bulan, bahkan setelah kenaikan tarif dihapus. Ekonom The Fed, Jaison Abel dan rekan terkait, menyebutkan bahwa kenaikan harga akibat tarif biasanya bersifat sementara, meski bisa berlangsung lebih lama jika tarif terus berubah. “Kita tahu bahwa inflasi yang diakibatkan oleh tarif mungkin tidak segera berakhir,” kata mereka dalam risetnya.

Pada bulan Mei 2026, Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan bahwa meskipun kenaikan harga akibat tarif masih terasa, inflasi sudah mendekati puncaknya. Namun, ketua Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa ia percaya kenaikan harga dari tarif hanya akan berlangsung sebentar dan tidak menjadi pengganggu jangka panjang. “Tarif tidak seperti biaya bahan bakar yang terus-menerus mengakibatkan inflasi,” kata Warsh dalam konferensi pers.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa perusahaan multinasional mulai menyesuaikan harga barang dan jasa mereka, terutama di sektor otomotif dan teknologi. Penelitian The Fed juga mengungkapkan bahwa inflasi yang didorong oleh tarif memang sedikit melemah sejak akhir 2023, tetapi dampaknya masih diperkirakan akan bertahan hingga tahun depan. “Kami menemukan bahwa setelah pandemi, inflasi mereda, tapi butuh dua tahun lebih untuk sepenuhnya terasa,” kata mantan Ketua Fed Jay Powell dalam konferensi pers sebelumnya.

Latar belakang peristiwa ini melibatkan perbedaan pendapat antara pejabat Fed dan ekonom. Sebagian besar pengambil kebijakan memandang kenaikan harga akibat tarif sebagai sementara, tidak berdampak jangka panjang. Namun, beberapa analis menilai bahwa tekanan inflasi dari tarif bisa menjadi faktor penting dalam pergerakan harga di masa depan. “Kita harus bersabar mengenai dampak yang akan terjadi,” kata Powell.

Statistik tambahan menunjukkan bahwa sekitar 60% perusahaan di AS telah menaikkan harga dalam waktu enam bulan terakhir, dengan porsi tertinggi berada di sektor manufaktur dan teknologi. Di sisi lain, perusahaan jasa seperti hotel dan perbankan juga mulai memperkirakan kenaikan harga untuk mengatasi tekanan inflasi.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa tarif dagang tidak hanya memengaruhi harga barang fisik, tetapi juga menyebabkan perubahan dalam struktur pasar. Dampaknya bisa terasa melalui peningkatan biaya produksi, kekhawatiran investor, dan pergeseran permintaan. “Kenaikan tarif mungkin memicu perubahan di segmen bisnis yang rentan,” kata seorang analis ekonom.

Informasi tambahan menunjukkan bahwa pemerintah AS sedang berdiskusi tentang kebijakan pengurangan tarif atau penyesuaian harga untuk mengurangi tekanan pada inflasi. Dalam sementara waktu, The Fed juga memperbarui model prediksi inflasi mereka dengan mempertimbangkan dampak dari kenaikan harga akibat tarif.

Dengan demikian, peristiwa ini menunjukkan bahwa kenaikan tarif dagang masih menjadi salah satu faktor penting dalam mengukur kondisi ekonomi AS. Meskipun tidak semua perusahaan memperkirakan kenaikan harga akan terus berlangsung, dampaknya belum sepenuhnya dihitung. “Kita harus tetap waspada,” kata seorang pejabat Fed yang tidak disebutkan namanya.

Artikel Terkait

0