Harga Minyak Dunia Melandai Usai Iran Setop Gempur Israel

[BeritaLokal], Jakarta – Harga minyak dunia mengalami penyesuaian signifikan setelah ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun konflik belum sepenuhnya berakhir. Pada perdagangan Senin (9/6/2026), minyak mentah Brent ditutup naik 1,25% menjadi US$ 94,25 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 0,84% menjadi US$ 91,30 per barel, kenaikan yang tetap menguatkan pasar namun menjauh dari puncak harian yang mencapai level lebih dari US$ 100 per barel. Pergerakan ini mencerminkan ketahanan pasar terhadap ancaman krisis energi global yang sebelumnya dipicu oleh serangan militer berulang antara kedua negara.

Dalam konteks konflik, Iran mengumumkan pada Selasa (9/6/2026) bahwa pihaknya telah menghentikan serangan terhadap Israel, sebagaimana disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Iran kepada CNBC. Namun, pihak Iran tetap memperingatkan bahwa operasi militer dapat kembali dilakukan jika Israel melanjutkan serangan ke Lebanon. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negaranya juga telah menghentikan serangan sementara, meski menegaskan bahwa konflik dengan Iran dan kelompok Hezbollah belum berakhir secara total.

Perkembangan ini memberikan sedikit ketenangan bagi pasar energi yang sebelumnya khawatir konflik akan meluas dan mengganggu pasokan minyak dunia. Namun, ketegangan tetap menggantung di udara, terutama karena sejumlah fakta penting yang masih memengaruhi dinamika pasar. Sebagai respons atas serangan Iran terhadap wilayah Israel, militer Israel melancarkan serangan terhadap target militer di wilayah barat dan tengah Iran, informasi yang disampaikan melalui unggahan resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di platform X. Dalam konteks ini, Presiden AS Donald Trump berusaha memperkuat upaya diplomasi, menyatakan bahwa Iran dan Israel sedang mencari jalan menuju kesepakatan gencatan senjata. Trump juga menyebut bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Irang masih berlangsung, meski seorang pejabat Iran yang terlibat dalam perundingan damai dengan pemerintahan Trump menyatakan bahwa peluang mencapai kesepakatan saat ini semakin kecil.

Di sisi lain, kebijakan produksi minyak di sektor global juga menjadi fokus utama pasar. Organisasi OPEC+ mengumumkan peningkatan target produksi sebesar 188 ribu barel per hari (bph) mulai Juli 2026, ini merupakan keputusan keempat sejak penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Kenaikan produksi ini sejalan dengan peningkatan produksi yang diterapkan pada Juni lalu, namun jumlahnya lebih rendah dibandingkan kenaikan sebesar 206 ribu barel per hari yang diberlakukan pada April dan Mei. Penyesuaian ini juga dipengaruhi oleh keluar Uni Emirat Arab dari organisasi, yang mengubah pembagian kuota produksi di antara anggota OPEC+.

Dengan demikian, pasar minyak saat ini terus mencermati dua faktor utama yang berpotensi menentukan arah harga ke depan: perkembangan konflik di Timur Tengah dan kebijakan produksi yang diambil negara-negara eksportir minyak. Meski ketegangan telah mereda, ancaman terhadap stabilitas ekonomi global dan inflasi bahan bakar tetap menjadi fokus utama para investor dan regulator. Pasar juga terus memantau apakah negosiasi damai antara Iran, Israel, dan AS akan mampu menghindari eskalasi baru yang dapat mengganggu pasokan energi global.

error: Content is protected !!