[BeritaLokal], Jakarta – Developer game Ace Combat 8: Wings of Theve, yang merupakan karya Project Aces, baru-baru ini mengungkapkan kebingungan dan keheranan yang mereka alami saat mendapat informasi rahasia mengenai desain pesawat tempur asli dari pihak manufakturnya. Ini bukan sekadar kejadian teknis, melainkan momen krusial dalam proses pengembangan game yang telah lama ditunggu oleh komunitas fans Ace Combat, yang telah mengantuk sejak game sebelumnya, Ace Combat 7, dirilis lebih dari tujuh tahun lalu.
Dalam wawancara eksklusif dengan GameWatch, Kazutoki Kono, Direktur Franchise Ace Combat, dan Manabu Shimomoto, Produser Ace Combat 8: Wings of Theve, mengungkapkan bahwa proses pembuatan pesawat dalam game ini bukan hanya soal desain grafis, tetapi juga soal keakuratan teknis dan representasi militer. Mereka harus memperoleh lisensi untuk memasukkan pesawat tempur asli ke dalam game, dan ini bukanlah tugas yang mudah. Manufaktur pesawat, yang sangat peduli terhadap keakuratan visual dan teknis, meminta tim pengembang untuk memastikan bahwa setiap detail, dari bentuk badan pesawat hingga sistem navigasi dan peralatan, tidak hanya mencerminkan desain publik, tetapi juga mengikuti standar teknis asli.
Namun, ketika tim Ace Combat mencoba mengumpulkan semua data publik, mereka menemukan bahwa ada beberapa informasi yang tidak tersedia secara umum, bahkan dalam dokumen resmi. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah mereka diperbolehkan mengakses informasi tersebut? Apakah ini melanggar kebijakan privasi atau standar industri? Karena itu, mereka memilih untuk membangun prototype desain pesawat berdasarkan informasi yang ada, lalu mengirimkannya ke manufaktur untuk review.
Dan inilah titik krusial: manufaktur pesawat, yang dikenal sangat terkendali dan berhati-hati dalam membagikan informasi, malah memberikan masukan yang tidak hanya teknis, tetapi juga “rahasia”, informasi yang tidak boleh diungkap ke publik. Bahkan, beberapa detail yang mereka berikan merupakan hasil pengujian internal atau data yang hanya tersedia untuk kelompok tertentu, seperti tim teknis militer atau pengembang yang bermitra secara eksklusif.
Kazutoki Kono mengatakan, “Kita merasa terkejut, bahkan sedikit bingung. Ini bukan sekadar masukan desain, ini adalah keterlibatan langsung dari pihak yang membuat pesawat itu sendiri, dan mereka tidak hanya memberikan masukan, tetapi juga meminta kita untuk mempertimbangkan apakah informasi ini bisa diterima secara etis dan hukum.”
Manabu Shimomoto menambahkan, “Kita tidak hanya mendapatkan masukan, tetapi juga diberi tahu bahwa ada bagian dari desain yang sudah ketinggalan zaman, atau bahkan salah. Ini menunjukkan bahwa meskipun kita ingin membuat game yang akurat, kita juga harus beradaptasi dengan realitas, dan kadang, realitas itu berada di luar batas yang kita harapkan.”
Proses ini menunjukkan bahwa pengembangan Ace Combat 8: Wings of Theve bukan hanya soal menggabungkan desain visual dan mekanik permainan, tetapi juga soal membangun hubungan multidimensi dengan dunia nyata, dan dalam hal ini, dengan dunia militer. Ini menjadi bukti bahwa Ace Combat tidak hanya game, tapi juga proyek kolaborasi antara imajinasi dan realitas, yang membutuhkan keberanian, ketelitian, dan kerja sama yang sangat intim.
Karena itu, meskipun terasa seperti “kebingungan”, sebenarnya ini adalah bagian dari proses yang paling penting, memastikan bahwa game ini bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga mempertahankan kredibilitasnya sebagai representasi akurat dari dunia pesawat tempur yang sebenarnya.
