BeritaLokal, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkuat upaya mengelola proyek hilirisasi dengan memfasilitasi pra-feasibility study (pra-FS) untuk 13 proyek baru. Hal ini menjadi langkah penting dalam mendukung ekonomi nasional, khususnya sektor industri dan energi. Kementerian ESDM menargetkan pra-FS tersebut akan selesai pada Juli 2026, sesuai dengan rencana pengembangan infrastruktur strategis.
Selain itu, Satgas Hilirisasi yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, menegaskan bahwa pra-FS ini merupakan tahap awal dalam memastikan kelayakan proyek. Dalam sidang kabinet paripurna, Presiden Prabowo Subianto menyebutkan 13 proyek hilirisasi yang akan diimplementasikan, termasuk pembangunan fasilitas kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah. Proyek ini menjanjikan nilai investasi sekitar Rp 239 triliun, menjadikannya kelanjutan dari proyek hilirisasi tahap II yang telah dimulai beberapa waktu lalu.
Pada sidang kabinet, Presiden Prabowo juga menyampaikan bahwa pra-FS ini meliputi lima proyek di sektor energi, lima proyek di sektor mineral, dan tiga proyek di sektor pertanian. Proyek hilirisasi yang akan direncanakan mencakup pembangunan tangki operasional untuk penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) di daerah seperti Palaran, Biak, dan Maumere. Di sektor logam, proyek menempatkan pengembangan fasilitas manufaktur baja berbasis nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, serta pembangunan fasilitas produksi slab baja karbon di Cilegon, Banten.
Selain itu, proyek hilirisasi juga mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Proyek ini akan melibatkan perusahaan Krakatau Steel untuk menghasilkan produk olahan logam mulia seperti tembaga dan emas di Gresik, Jawa Timur. Di sektor perkebunan, pengolahan minyak sawit menjadi oleofood dan biodiesel di Sei Mangkei, Sumatera Utara, juga menjadi bagian dari program hilirisasi.
Kepala Satgas Hilirisasi, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa 13 proyek ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi nasional. Menurutnya, pengelolaan proyek hilirisasi sangat penting untuk menciptakan kemandirian industri dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Proyek tersebut juga terkait dengan program nation building, sebagai bagian dari upaya membangun kebangkitan bangsa.
Pada sesi pertama pemerintahan Prabowo Subianto, proyek hilirisasi menjadi fokus utama dalam percepatan pembangunan infrastruktur strategis. Proyek yang akan direncanakan mencakup pengembangan ekosistem aspal di Karawang, Jawa Barat, serta pembangunan fasilitas penyimpanan BBM di daerah lain. Dengan target pembangunan 13 proyek pada tahun ini, Kementerian ESDM menegaskan komitmen untuk mempercepat pengembangan industri dan energi nasional.
Proyek hilirisasi yang akan diluncurkan ini menunjukkan kepedulian pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi melalui investasi strategis. Dengan nilai total Rp 239 triliun, proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas industri dan memperkuat persaingan produk Indonesia di pasar internasional. Kementerian ESDM berharap pra-FS yang akan selesai pada Juli 2026 dapat menjadi fondasi untuk pengembangan proyek hilirisasi lebih lanjut dalam jangka panjang.