BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah Papua Tambah 30 Ribu Hektare Sawah Baru untuk Meningkatkan Produksi Beras
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan pertemuan dengan para kepala daerah di seluruh Papua, Kamis (11/6/2026), di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta. Perbincangan fokus pada pengembangan program cetak sawah baru yang terus berjalan untuk meningkatkan produktivitas pangan dan mengendalikan harga beras di daerah tersebut.
Amran menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025 dan 2026, Kementan telah mencetak 80 ribu hektare sawah baru, dengan target produksi 7 ton beras per hektare. “Sawah-sawah ini diharapkan mampu menurunkan harga beras secara drastis,” kata Amran, sambil mengingatkan bahwa sebelumnya harga beras di Papua mencapai Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram.
Program cetak sawah baru dibagi dalam dua tahap: 30 ribu hektare pada 2025 dan 50 ribu hektare tambahan pada 2026. Amran mengatakan, sebagian dari lahan tersebut sudah berproduksi, sementara sebagian masih dalam proses pemanfaatan. “Tahun lalu, produksi hanya mencapai 3 ton per hektare, namun kini naik menjadi 5 hingga 7 ton,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan penggunaan teknologi modern seperti traktor dan alat pertanian canggih untuk memastikan mekanisasi pangan tetap berjalan optimal. “Kita ingin beralih dari cara manual ke sistem mekanisasi yang lebih efisien,” tambah Amran.
Selain itu, Kementan juga mengusulkan peningkatan akses irigasi dan pengadaan bibit komoditas lain seperti jagung untuk masyarakat Papua Selatan. Para kepala daerah menyampaikan aspirasi terkait perbaikan infrastruktur pertanian, termasuk pengiriman traktor hingga 100 unit yang siap dikirim ke sana dalam waktu dekat.
Amran menegaskan bahwa sebagian besar permintaan kepala daerah akan dipenuhi secara langsung. “Saat ini, 90 persen permintaan telah terpenuhi, dan jika progresnya baik, kami akan memenuhi seluruh kebutuhan nanti,” kata dia.
Dengan program cetak sawah baru dan pengadaan alat pertanian modern, Kementan berharap bisa mendorong pembangunan ekonomi lokal serta menekan tekanan harga beras di Papua.