[BeritaLokal], Jakarta – Dalam proyek film laga Hong Kong The Furious, yang akan tayang di bioskop Indonesia pada 17 Juni 2026, dua nama besar perfilman Indonesia, Yayan Ruhian dan Joe Taslim, menghadapi tantangan baru yang jauh dari kenyataan mereka di perfilman sebelumnya. Bukan hanya menghadapi adegan pertarungan yang lebih kompleks, tetapi juga harus menyesuaikan gaya pertarungan dengan senjata dan teknik yang tidak terbiasa, bahkan di dunia perfilman laga, hal ini dianggap sebagai langkah eksperimental.
Yayan Ruhian, yang dikenal sebagai pemeran Mad Dog dalam The Raid dan Mortal Kombat, mengungkapkan kekaguman terhadap koreografi adegan pertarungan yang dipimpin oleh Kensuke Sonomura, pengarah adegan laga film ini. “Begitu melihat video pertamanya, wah ini luar biasa. Betul-betul Sonomura dan Tim itu orang-orang yang hebat. Tidak cuma master dari bela diri mereka, tapi juga master koreografi yang hebat,” ujarnya dalam konferensi pers di Epicentrum XXI, Jumat (5/6/2026).
Pertarungan dalam The Furious menjadi poin krusial karena pertama kali Yayan melakoni adegan bertarung dengan senjata busur dan panah, sebuah senjata yang biasanya digunakan dalam konteks perang, bukan pertarungan jarak dekat. “Karena terbilang langka, panah dijadikan senjata untuk fighting jarak pendek. Biasanya ini untuk perang, tapi di sini digunakan untuk berantem jarak pendek,” jelas Yayan. Hal ini menunjukkan bahwa film ini bukan sekadar pertunjukan tari pertarungan, tetapi merupakan eksplorasi teknik baru yang dipadukan dengan keahlian para aktor.
Sementara itu, Joe Taslim, yang dikenal sebagai tokoh dengan gaya pertarungan pencak silat dalam The Raid dan Mortal Kombat, menghadapi tantangan berbeda: ia harus memperkenalkan judo, olahraga yang ia geluti secara profesional. “Karena sebelumnya pencak silat di The Raid, di Mortal Kombat seorang ahli ninjutsu. Nah pertama kali, Kenji bilang kita harus memperkenalkan yang apa kamu jago, judo,” kata Joe dalam wawancara yang sama.
Keduanya mengakui bahwa kehadiran sutradara Kenji Tanigaki menjadi alasan utama mereka menerima tawaran ini. “Kita berdua penggemarnya Kenji Tanigaki. Dan aku juga dari kecil nonton film laga Hong Kong, karena tahun 90-an itu kan perfilman Indonesia dikuasai film Hong Kong dan Hollywood. Terutama film action,” ujar Joe. Ia menambahkan bahwa tantangan untuk memperkenalkan judo dan panah bukan sekadar tantangan fisik, tetapi juga merupakan bentuk pernyataan: “Kita bertandang membawa nama Indonesia… yang sudah beberapa dekade sudah menguasai genre action.”
Kenji Tanigaki, yang memimpin proyek ini, memberikan kebebasan kepada para aktor untuk berlaga sesuai dengan gaya tarung masing-masing. Ini menjadi kunci keberhasilan film ini dalam mengekspresikan keunikan dan kekuatan para aktor Indonesia yang dipadukan dengan teknik pertarungan dari dunia laga Hong Kong.
Dengan kemitraan antara dunia perfilman Indonesia dan dunia laga Hong Kong, The Furious bukan hanya film yang menantang, tetapi juga sebuah pernyataan: bahwa perfilman Indonesia tetap bisa bergerak di bidang yang paling ekstrem, dengan teknik, senjata, dan koreografi yang tak pernah dikenal sebelumnya. Film ini menjadi bukti bahwa Indonesia tidak hanya menguasai genre action, tetapi juga mampu membangun cerita yang kompleks, dengan keterlibatan aktor yang berani menantang batas-batas yang dulu dianggap tak mungkin.