Hideo Kojima Sebut Generative AI Mungkin Butuh 100 Tahun Lagi untuk Bisa Ciptakan Karya Seni

[BeritaLokal], Jakarta – Hideo Kojima, nama yang telah menjadi ikon dalam dunia game, dari Metal Gear Solid hingga Death Stranding, kini membuka suara tentang peran Artificial Intelligence, khususnya generative AI, dalam dunia seni. Dalam pernyataannya yang terkemuka, Kojima menyatakan bahwa teknologi ini mungkin belum siap untuk menciptakan karya seni dalam skala yang signifikan, dan bahkan jika akan terjadi, itu mungkin butuh 50 hingga 100 tahun lagi.

Pernyataan ini bukan sekadar opini pribadi, melainkan sebuah refleksi mendalam terhadap alur evolusi teknologi dan estetika seni. Menurut Kojima, AI bukan alat kreatif, tetapi alat pengendali. Ia menekankan bahwa AI paling cocok digunakan untuk membangun sistem dan mekanisme dalam game, seperti membuat NPC yang beradaptasi secara dinamis terhadap keputusan pemain, bukan untuk menghasilkan visual atau karya seni yang memiliki makna artistik atau emosional.

Dalam konteks pengembangan game, Kojima menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam kontrol permainan dapat meningkatkan kedalaman pengalaman, membuat dunia virtual lebih hidup, dan memperkaya interaksi antara pemain dan karakter. Namun, ia menolak untuk menganggap AI sebagai “penulis” atau “pengganti” seniman. “Seni adalah kehidupan,” katanya, menegaskan bahwa karya seni bukan hanya hasil dari algoritma, tetapi dari pengalaman, emosi, dan makna yang hanya bisa diwujudkan oleh manusia.

Sikap Kojima ini menempatkan dirinya di posisi unik di tengah peta perkembangan teknologi game. Di sisi lain, banyak developer game saat ini memilih untuk sepenuhnya mengadopsi AI sebagai alat kreatif, baik dalam desain visual, pengembangan musik, maupun penulisan dialog. Namun, Kojima memilih jalan berlawanan: ia memandang AI sebagai “bantuan teknis”, bukan “teman kreatif”. Ia berpikir bahwa karya seni yang muncul dari AI akan terasa “terlalu jauh” dari esensi manusia, yang merupakan inti dari semua karya seni yang berarti.

Kojima juga menyampaikan bahwa masa depan penggunaan AI dalam seni tidak bisa diprediksi secara pasti. “Kita akan menemukan cara yang baik, langkah yang baik untuk menggunakan teknologi ini,” katanya, menunjukkan bahwa ia percaya bahwa generasi muda akan menentukan arah penggunaan AI, bukan teknologi itu sendiri. Ia percaya bahwa anak muda akan mengembangkan konteks, nuansa, dan keberanian untuk menghadirkan AI dalam dunia seni, tetapi tidak dengan menggantikan manusia, melainkan dengan menyeimbangkan antara teknologi dan kreativitas manusia.

Dalam dunia game, Kojima telah dikenal sebagai pengembang yang sangat terlibat dalam proses kreatif, dari menulis cerita, mengembangkan karakter, hingga membangun dunia virtual. Ia tidak hanya membangun game, tetapi juga membangun pengalaman emosional. Ia percaya bahwa teknologi hanya akan menjadi alat, bukan tujuan. “AI mungkin akan bisa membuat gambar, membuat musik, bahkan membuat dialog, tapi tidak akan bisa membuat karya seni yang bermakna,” katanya.

Dengan pernyataan ini, Kojima tidak hanya memberikan pandangan pribadi, tetapi juga memicu diskusi lebih dalam tentang peran teknologi dalam seni dan budaya. Ia meminta kita untuk tidak terjebak dalam optimisme teknologi, tetapi tetap mempertanyakan apakah kita akan benar-benar memperoleh sesuatu yang lebih bermakna dari AI, atau hanya sesuatu yang lebih cepat.

Kojima tetap berdiri di garis depan, mengingatkan bahwa teknologi hanya akan menjadi alat, dan seni hanya akan tetap milik manusia, yang memiliki pengalaman, emosi, dan makna.

error: Content is protected !!