[BeritaLokal], Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tengah mengalami transformasi struktural yang signifikan, dengan rencana memangkas jumlah anak usahanya dari 67 menjadi 19 entitas inti lewat proses merger dan konsolidasi. Langkah ini bukan hanya strategi operasional, tetapi juga bagian integral dari upaya BP BUMN dan Danantara untuk memperkuat posisi Telkom sebagai strategic holding digital nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, yang juga menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara, menjelaskan bahwa proses ini akan melibatkan berbagai bentuk transformasi, termasuk merger, divestasi, likuidasi, dan pembentukan entitas holding baru. Tujuannya jelas: mempercepat efisiensi bisnis, memfokuskan sumber daya pada sektor strategis, dan meningkatkan daya saing Telkom di era digitalisasi yang tidak berhenti berkembang.
Menurut Dony, proses restrukturisasi ini bukan hanya tentang peningkatan skala, tetapi juga tentang adaptasi. “Konsolidasi ini terjadi di seluruh bidang, misalnya fiber optic, yang akan tergabung dalam beberapa perusahaan besar. Karyawan tetap ada, mereka ikut berkembang dalam struktur baru,” jelasnya saat pertemuan dengan Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, di Wisma Danantara, Jakarta.
Pendekatan ini didukung oleh rencana perampingan ekosistem bisnis Telkom yang telah ditetapkan secara resmi melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) Tahun Buku 2025. Dalam rapat tersebut, Tim Manajemen Telkom memaparkan langkah-langkah strategis yang akan diterapkan secara bertahap, termasuk pengembangan pusat data, tower, infrastruktur telekomunikasi, serta konsolidasi FiberCo BUMN. Selain itu, Telkom juga berencana melakukan penataan lisensi dan pengelolaan aset yang tidak relevan secara strategis.
Dony menekankan bahwa transformasi ini bukan sekadar penyederhanaan struktur organisasi, tetapi juga bagian dari visi jangka panjang Telkom untuk menjadi perusahaan digital yang lebih agile dan kompetitif di tingkat global. “Ini adalah investasi dalam masa depan. Kita tidak hanya ingin lebih besar, tapi lebih berdaya saing,” katanya.
Perubahan ini juga mencakup pengelolaan tenaga kerja. Dony menyatakan bahwa meskipun jumlah anak usaha berkurang, karyawan tetap memiliki tempat berada dalam organisasi. “Tidak ada yang akan dihukum atau dihapus. Karyawan akan bergerak dalam proses merger dan integrasi, dan struktur baru akan memastikan mereka tetap menjadi bagian dari ekosistem bisnis Telkom yang lebih besar.”
Dengan fokus pada sektor seperti data center, fiber optic, tower, dan infrastruktur digital, Telkom berupaya membangun sistem yang lebih efisien, responsif, dan siap menghadapi tantangan ekosistem digital yang dinamis. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga relevansi Telkom di tengah perubahan industri telekomunikasi global, di mana perusahaan-perusahaan digital dan teknologi terkait mulai menekan dominasi perusahaan tradisional.
Transformasi ini juga menjadi indikator bahwa Telkom tidak hanya ingin bertahan, tetapi ingin menjadi pemain dominan di pasar digital nasional dan global. Dengan membangun struktur yang lebih ringkas dan fokus, Telkom berharap mampu mengejar target pertumbuhan yang berkelanjutan, serta memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi paling strategis di Indonesia.
