Rupiah Sudah Tembus Rp 18.200 per Dolar AS Selasa Pagi

[BeritaLokal], Jakarta – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan di tengah dinamika pasar global yang semakin tidak pasti. Pada Selasa pagi (9/6/2026), rupiah berhasil menembus level Rp 18.200 per dolar AS, mencerminkan konsistensi pelemahan yang telah berlangsung sepanjang tahun ini. Data dari Google Finance menunjukkan bahwa pada pukul 07.05 WIB, rupiah berada di angka Rp 18.025 per dolar, namun dalam waktu singkat, pada 07.10 WIB, nilai tukar ini turun menjadi Rp 18.229 per dolar, menunjukkan volatilitas yang tinggi dan tekanan pasar yang terus memperkuat dolar AS.

Analisis ekonomi menyatakan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya merupakan fenomena sementara, tetapi merupakan tren yang berkelanjutan. Pengamat ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa rupiah masih berpotensi menembus level Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan Juni 2026. Pernyataan ini didasarkan pada kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat, menciptakan tekanan yang tidak mudah diatasi oleh kebijakan moneter dan fiskal pemerintah.

Faktor eksternal yang paling dominan adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara AS dan Iran, serta serangan Iran terhadap sekutu AS seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab, telah memicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi. Dampaknya, harga minyak dunia naik, dan kebutuhan dolar AS untuk impor energi meningkat, sehingga memperbesar tekanan pada neraca berjalan. Selain itu, konflik Israel-Hamas dan ketegangan di Lebanon Selatan juga mendorong investor global untuk memilih aset yang lebih aman, seperti dolar AS, yang menguat secara signifikan.

Dari sisi moneter, data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan telah membuat Bank Sentral AS (Federal Reserve) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga pada kuartal IV 2026. Dengan kepemimpinan Kevin Warsh, kebijakan moneter AS dipandang sebagai faktor stabil yang memperkuat dolar AS dan memperkuat tekanan pada rupiah.

Di sisi domestik, tekanan ekonomi terus memperbesar. Kenaikan harga minyak dunia telah berdampak langsung pada neraca berjalan, menyebabkan defisit anggaran pemerintah mendekati 3% dari PDB. Inflasi yang terus meningkat, disertai dengan surplus neraca perdagangan yang mulai menyempit, menambah beban ekonomi. Selain itu, peringkat utang Indonesia dari Moody’s yang telah diturunkan menjadi faktor sentimen negatif yang memperkuat ketidakpercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Dengan demikian, rupiah tidak hanya berada di tengah tekanan eksternal, tetapi juga terus berhadapan dengan tantangan domestik yang semakin kompleks. Penurunan peringkat utang, inflasi yang tidak terkendali, dan ketergantungan pada impor energi yang mahal telah membentuk lingkungan yang sangat tidak menguntungkan bagi mata uang Indonesia. Dengan prediksi bahwa rupiah akan mencapai Rp 19.000 per dolar, pasar global tampaknya telah menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan fiskal dan moneter yang akan diambil pemerintah dalam waktu dekat.

error: Content is protected !!