Harga Emas Bangkit Terdorong Harapan Gencatan Senjata Israel

[BeritaLokal], Jakarta – Harapan gencatan senjata antara Israel dan Iran telah memicu pergerakan signifikan di pasar emas global, menunjukkan bahwa sentimen geopolitik tetap menjadi pendorong utama fluktuasi harga komoditas safe haven. Meskipun peningkatan harga emas masih terbatas, pergerakan ini menandai perubahan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh interaksi antara ketegangan regional dan ekspektasi kebijakan moneter di Amerika Serikat.

Pada perdagangan Senin (9/6/2026), harga emas spot berhasil memangkas kerugian sebelumnya dan naik 0,33% menjadi US$ 4.343,03 per ons, mencapai titik tertinggi sejak awal bulan April. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga menguat tipis, naik 0,05% ke US$ 4.367,30 per ons. Pergerakan ini didorong oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa Israel dan Iran sedang berupaya mewujudkan gencatan senjata dalam waktu dekat, serta menegaskan bahwa negosiasi damai masih berlangsung di jalur yang menjanjikan.

Menurut Peter Grant, Senior Metals Strategist di Zaner Metals, kabar tersebut membantu mengangkat harga emas dari titik terendahnya, yang terjadi sejak 23 Maret, dengan mengurangi tekanan penurunan harga. “Emas bangkit dari level terendah yang terjadi di pasar luar negeri hanya karena adanya kabar bahwa mungkin akan ada gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Hal itu sedikit mengurangi tekanan penurunan harga,” ujarnya.

Namun, kenaikan harga emas tetap terbatas oleh dua tekanan utama: penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed. Dolar AS, yang telah mendekati level tertingginya dalam hampir dua bulan, mencerminkan kekuatan data ketenagakerjaan AS yang melebihi perkiraan pasar. Dolar yang menguat membuat komoditas diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor asing, sehingga menekan nilai tukar emas dalam mata uang lain.

Selain itu, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai 43%, meningkat signifikan dari sekitar 14% sebulan lalu, berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group. Suku bunga tinggi menjadi ancaman terhadap emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil atau bunga seperti instrumen lain, seperti obligasi atau saham. Dalam konteks ini, ketegangan geopolitik yang berpotensi berakhir menjadi faktor “anti-hawkish” bagi investor, yang menantikan keputusan The Fed pada pertemuan berikutnya.

Investor juga menanti data ekonomi penting dari AS, yaitu Indeks Harga Konsumen (CPI) Mei dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Rabu dan Kamis. Kepala Analis Pasar Bybit, Han Tan, menilai bahwa jika data inflasi menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan, harga emas berpotensi menguji level psikologis penting di US$ 4.000 sebagai area dukungan utama.

Di sisi lain, logam mulia lainnya bergerak bervariasi: perak spot naik 1% menjadi US$ 68,52 per ons, sementara platinum turun 1,3% ke US$ 1.752,87 per ons, dan paladium melemah 1,3% menjadi US$ 1.209,29 per ons. Pergerakan ini mencerminkan bahwa pasar tetap memperhatikan keseimbangan antara sentimen geopolitik, kebijakan moneter, dan dinamika inflasi global.

Dengan demikian, pasar emas kini berada di titik kritis: di satu sisi, harapan perdamaian regional membuka jalan bagi “safe haven” yang lebih stabil; di sisi lain, tekanan dari kebijakan moneter dan penguatan dolar tetap menjadi penghambat utama. Pergerakan harga akan terus dipantau ketat, terutama menjelang data inflasi dan pertemuan The Fed.

error: Content is protected !!