BeritaLokal, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan pada Senin (8/6/2026), mencapai level 18.107 per dolar AS. Pergerakan kurs ini diprediksi masih tertekan oleh tekanan penguatan dolar AS yang disebabkan oleh faktor geopolitik dan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).
Selain itu, analis menilai bahwa rupiah berpotensi melemah lebih lanjut hingga mencapai level Rp 19.000 per dolar AS pada akhir Juni 2026. Pergerakan kurs rupiah di pasar spot tercatat turun 71 poin atau 0,39% dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.036. Kondisi ini dipengaruhi oleh sentimen gejolak geopolitik di Timur Tengah dan ketegangan antara Rusia dan Ukraina, yang diperkirakan akan memicu perang berlangsung lama.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak mengarah pada krisis seperti 1997-1998 karena ekonomi dan fiskal Indonesia masih stabil. Ia menyebutkan tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi oleh sentimen negatif jangka pendek, yang diimbangi dengan koordinasi pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia. “Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus,” kata Purbaya dalam konferensi pers.
Sementara itu, analis Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa tensi geopolitik dan kebijakan The Fed terus memengaruhi kurs rupiah. Ia menilai penguatan dolar AS akan berlanjut selama kebijakan moneter Amerika Serikat tetap menahan suku bunga tinggi, meski ada kemungkinan kenaikan di kuartal ketiga dan keempat tahun ini. “Kemungkinan besar rupiah akan naik hingga Rp 19.000,” kata Ibrahim.
Dampak pelemahan rupiah terhadap sektor keuangan masih relatif terbatas, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan bahwa harga barang impor yang naik bisa memicu inflasi impor dan tekanan fiskal pemerintah. Namun, dampak langsung terhadap stabilitas perbankan masih minimal karena pasar uang tetap stabil.
Pada hari ini, Purbaya menegaskan bahwa koordinasi antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia adalah kunci untuk memperbaiki kondisi rupiah. Ia mengharapkan pergerakan kurs bisa diatasi melalui upaya bersama yang efektif. “Kita harus memperkuat koordinasi agar rupiah tetap stabil,” kata Purbaya.
Dampak dari pelemahan rupiah terhadap perekonomian masih terbatas, meski menimbulkan risiko inflasi impor dan tekanan fiskal. Namun, Purbaya mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga sebagai fondasi utama dalam menjaga keseimbangan keuangan nasional.
Artikel Terkait
Rupiah Tegar Tambah Lebih 18,093, Pasar Tunggu Gubernur BI
28 Juli 2026
Nilai Rupiah Turun ke 18.070 di Tengah Geopolitik
28 Juli 2026
Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Mereda
28 Juli 2026
Harga Emas Dunia Tembus 4.087, Investor Pantau Fed
28 Juli 2026
Bank Indonesia Mantap Kebijakan Stabil Menenangkan Pasar
27 Juli 2026
Rupiah Tembus 18.009, Kurs Rupiah Turun Hari Ini
27 Juli 2026
Perampingan BUMN Lebih Dari 250 Perusahaan Lepas Akhir Juli
27 Juli 2026
Gubernur Baru BI Tekankan Upaya Jaga Kurs Rupiah
27 Juli 2026
Memuat komentar...