Bidik Produksi Minyak 1 Juta Barel, Pengembangan Blok Rokan Dikebut

Pengembangan minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional jadi andalan untuk mencapai produksi minyak 1 juta barel per hari.

PerbesarPengembangan minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional jadi andalan untuk mencapai produksi minyak 1 juta barel per hari. (Foto: Pertamina)

, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat pengembangan minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional atau unconventional oil and gas sebagai salah satu strategi meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, wilayah kerja yang saat ini dinilai paling potensial untuk pengembangan migas nonkonvensional adalah Blok Rokan. Kajian awal pengembangan telah dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan.

“Untuk blok-blok yang memiliki cadangan cukup berdasarkan identifikasi survei geologi, kami akan menggunakan teknologi unconventional. Yang paling memungkinkan saat ini adalah wilayah Rokan,” ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (5/6/2026).

Selain migas nonkonvensional, pemerintah juga terus mendorong penerapan teknologi enhanced oil recovery (EOR) dan hydraulic fracturing atau fracking di sejumlah wilayah kerja migas.

Melalui berbagai upaya tersebut, pemerintah optimistis target produksi minyak nasional pada 2029 dapat mencapai kisaran 900 ribu hingga 1 juta barel per hari.

“Jadi target produksi tahun 2029 ini berkisar antara 900 sampai 1 juta barel secara keseluruhan,” ungkapnya.

Ia mencontohkan keberhasilan Amerika Serikat yang mampu membalikkan tren penurunan produksi migas melalui penerapan teknologi nonkonvensional. Setelah produksi meningkat, negara tersebut bahkan mampu menjadi eksportir energi.

“Pengalaman Amerika menunjukkan ketika produksi mengalami penurunan, mereka menerapkan produksi unconventional. Hasilnya produksi meningkat dan akhirnya surplus sehingga bisa meningkatkan ekspor migas,” katanya.

 

Penawaran Kerja Sama

PerbesarPengembangan minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional jadi andalan untuk mencapai produksi minyak 1 juta barel per hari. (Foto: Pertamina)

Yuliot mengungkapkan sejumlah penyedia teknologi telah menawarkan kerja sama kepada pemerintah. Proposal tersebut telah dipertemukan dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) untuk dievaluasi lebih lanjut.

Saat ini, SKK Migas meminta agar kerangka regulasi pengembangan migas nonkonvensional dapat dirampungkan paling lambat akhir Juni 2026 sehingga implementasinya bisa dimulai pada awal Juli.

“Kami sedang berpacu dengan waktu. Kalau produksi dalam negeri meningkat, impor bisa berkurang dan dampak fluktuasi nilai tukar terhadap kebutuhan energi juga akan semakin kecil,” ujarnya.

Yuliot menegaskan pemerintah tidak mempersoalkan siapa penyedia teknologi yang nantinya terlibat dalam proyek tersebut. Fokus utama saat ini adalah memastikan hasil evaluasi pengembangan migas nonkonvensional dapat segera diimplementasikan.

 

Uji Coba Awal

Dalam kesempatan serupa, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan uji coba awal yang dilakukan Pertamina telah menunjukkan hasil positif. Dari satu sumur yang telah dibor, produksi mencapai sekitar 500 barel per hari.

Menurut Djoko, jumlah produksi tersebut berpotensi meningkat seiring penambahan sumur baru yang akan dibor pada tahap berikutnya.

“Pertamina sudah melakukan pengeboran, berhasil, dan sudah dites. Sekarang Pertamina sedang mengajukan skema kontrak bagi hasil yang lebih menarik untuk pengembangan selanjutnya,” kata dia.

Djoko menjelaskan proyek migas nonkonvensional akan menggunakan kontrak yang berdiri sendiri dan berbeda dari skema pengembangan migas konvensional yang telah berlaku di wilayah kerja eksisting.

Dia menambahkan perbedaan utama antara migas konvensional dan nonkonvensional terletak pada lokasi cadangan yang dieksploitasi. Pada migas nonkonvensional, produksi dilakukan hingga ke sumber atau dapur minyaknya, sehingga volume cadangan yang dapat diproduksikan lebih besar dan umur produksinya lebih panjang.

“Kalau natural decline, pengembangan unconventional justru bisa bertahan jauh lebih lama dibandingkan conventional,” ujarnya.



error: Content is protected !!