BeritaLokal, Jakarta – Beritalokal.my.id, Jakarta, Harga emas dunia mengalami pergerakan negatif pada perdagangan Senin (23/6/2026), terkait peningkatan ketegangan di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran inflasi dan ekspektasi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Pergerakan ini mencerminkan dinamika global yang kompleks, dengan berbagai faktor memperkuat tekanan pada pasar logam mulia.
Menurut laporan dari CNBC (2/6/2026), harga emas di pasar spot mengalami pergerakan -0,4% menjadi USD 4.517,37 per ounce setelah mencapai level tertinggi dalam dua pekan sebelumnya. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 1,9% ke level USD 4.506,30 per ounce. Kebijakan moneter yang ketat, terutama ekspektasi kenaikan suku bunga Fed, menjadi pemicu utama pergerakan harga emas.
Analisis dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyebutkan bahwa kebijakan suku bunga yang tetap tinggi adalah faktor utama dalam pergerakan emas. “Ekspektasi kenaikan suku bunga untuk jangka lebih lama kemungkinan akan terus menekan harga emas, kecuali imbal hasil obligasi berhenti naik dan suku bunga mulai stabil atau bergerak lebih rendah,” kata Wyckoff.
Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Iran menyatakan serangan terhadap pangkalan militer AS sebagai respons atas serangan Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Selain itu, tim negosiasi Iran menghentikan pertukaran pesan dengan AS melalui pihak mediator. Peristiwa ini memicu kekhawatiran inflasi global karena kenaikan harga minyak dunia.
Kondisi ini juga berdampak pada pasar emas. Selain itu, analis Saxo Bank, Ole Hansen, menilai bahwa investor akan fokus pada tema struktural yang mendukung tren bullish emas jika situasi geopolitik stabil dan dampak guncangan energi mereda. Hansen menyebutkan bahwa bank-bank sentral di berbagai negara diperkirakan masih menjadi pembeli bersih emas sepanjang tahun, yang bisa memberikan dukungan untuk harga logam mulia.
Kenaikan suku bunga Fed mencapai 56% menurut alat pemantau FedWatch CME Group. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya berkurang saat suku bunga tinggi karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Fokus investor segera ditujukan pada data ketenagakerjaan AS dan pernyataan pejabat Fed.
Pada akhirnya, dinamika global yang kompleks menunjukkan bahwa harga emas akan terpengaruh oleh kombinasi faktor ekonomi, geopolitik, dan kebijakan moneter. Pergerakan harga emas memantulkan risiko inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga, menciptakan dinamika yang terus berubah dalam pasar dunia.
Artikel Terkait
Perampingan BUMN Lebih Dari 250 Perusahaan Lepas Akhir Juli
27 Juli 2026
BPJPH Dorong Usaha Capai Sertifikasi Halal Oke Oktober 2026
27 Juli 2026
Transmigrasi Jadi Pusat Ekonomi Baru, TEP Luncurkan
26 Juli 2026Bank Mandiri Raih Laba Rp30,4T Kuartal II 2026
25 Juli 2026
Bank Dunia Berhenti Bagi Pinjaman ke China pada 2031
24 Juli 2026
Harga Emas Pegadaian 24 Jul 2026 Trendi Terbaru di Jakarta
24 Juli 2026
Harga Emas Turun Karena Konflik Timur Tengah
24 Juli 2026
Memuat komentar...