BeritaLokal, Jakarta – Situs palsu yang meniru platform pertukaran aset kripto Uniswap terbukti mampu menguras dana dari sejumlah dompet digital pengguna, menciptakan kerugian sebesar Rp 7,1 miliar. Analis blockchain berpengalaman, “b-block,” memperingatkan bahwa aksi penipuan ini kini tengah dihimpun oleh pelaku yang terorganisir dengan canggih.
Selain itu, kasus ini terjadi setelah kelompok keamanan SEAL melaporkan lonjakan iklan berbahaya di Google yang menargetkan pengguna kripto. Dalam laporan mereka, SEAL menyebut bahwa para pelaku menyamar sebagai platform DeFi, dompet digital, dan aplikasi perdagangan aset kripto untuk menguras dana pengguna. Sejumlah URL iklan palsu telah diblokir, mencapai lebih dari 356 alamat, yang meliputi nama-nama seperti Uniswap, Morpho Finance, PancakeSwap, Hyperliquid, CoW Swap, dan 1inch.
Metode serangan yang digunakan termasuk cloaking, fingerprinting, serta sistem nested iframe untuk menghindari deteksi otomatis oleh Google. Iklan palsu juga memanfaatkan layanan seperti sites.google.com dan docs.google.com agar terlihat lebih nyata di hasil pencarian. Selain itu, para pelaku meniru malware seperti Inferno Drainer dan Vanilla Drainer yang sering digunakan dalam kampanye phishing. Jika pengguna memasukkan data seperti frasa pemulihan (seed phrase) ke situs tiruan, mereka dapat mengambil alih akses dompet digital dan menguras asetnya.
Kasus ini bukan satu-satunya peristiwa penipuan kripto yang terjadi di dunia digital. Sebelumnya, pengguna Ledger juga menjadi sasaran kampanye phishing melalui email palsu setelah kebocoran data pada mitra e-commerce Global-e. Pelaku mengirim email menyerupai pengumuman resmi dari Ledger dan Trezor, meminta pengguna memindahkan dompet digital melalui situs palsu yang meminta frasa pemulihan berisi 24 kata.
Selain itu, Chief Technology Officer (CTO) Ripple, David Schwartz, juga mengingatkan adanya kampanye phishing yang menggunakan email keamanan palsu mirip dengan Robinhood. Email tersebut menyerang pengguna dengan klaim aktivitas login baru dari perangkat iPhone 17 Pro dan meminta peninjauan aktivitas mencurigakan melalui tombol “Review Activity Now,” yang ternyata mengarahkan ke pencurian data akun. Robinhood kemudian mengonfirmasi masalah tersebut, tetapi menegaskan tidak ada dana terdampak.
Dalam laporan SEAL, kerugian yang terkonfirmasi atau belum teridentifikasi mencapai USD 1,27 juta dalam periode 13 Maret hingga 30 Maret. Namun, analis menyebut angka sebenarnya jauh lebih besar karena banyak transaksi tidak ditemukan. Pelaku serangan juga mengandalkan infrastruktur canggih, termasuk Cloudflare Workers, Arweave, dan lapisan proxy yang dapat memantau aktivitas pengguna secara real-time.
Penipuan kripto terus berkembang dengan semakin kompleks, menunjukkan bahwa keamanan digital masih menjadi tantangan utama bagi masyarakat. Pengguna dianjurkan untuk hanya menggunakan tautan resmi dan melakukan verifikasi melalui layanan seperti DefiLlama. Beritalokal.my.id tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari keputusan investasi, tetapi mengingatkan pembaca untuk selalu memantau aktivitas digital dengan hati-hati.
Artikel Terkait
Kebocoran Data Terlarut, Serangan Siber Paling Ngeri 2026
16 Juli 2026
AI Phishing: Tips Mengenali Tautan Jebakan yang Menyerupai Resmi
13 Juli 2026
Google Gugat Jaringan Siber China Gegara Gemini AI Disalahgunakan
15 Juni 2026
Jangan Tertipu! Kenali Modus Penipuan Kripto yang Marak Terjadi
1 Juni 2026
Kraken Luncurkan Aplikasi Trading Kripto AI
15 Juli 2026
Kripto Melemah: Bitcoin, Ethereum, Cardano Tertekan
15 Juli 2026
Temasek Hindari Investasi Kripto, Fokus AI
15 Juli 2026
Bybit Dihapus dari Play Store Korea
15 Juli 2026
Memuat komentar...