Investasi AI Naik, Perusahaan Masih Tanpa Hasil Bisnis

BeritaLokal, Jakarta – Investasi AI Meningkat, Banyak Perusahaan Belum Rasakan Dampak Bisnis, menimbulkan ketegangan di sektor korporasi Asia Tenggara, terutama ketika laporan terbaru McKinsey dan Singapore EDB menyoroti bahwa, walau 60 % perusahaan mengalokasikan 11-40 % anggaran teknologi untuk kecerdasan buatan, pencapaian atas EBIT tetap di bawah 5 % dan hampir satu dari lima perusahaan belum memperoleh manfaat finansial.

Implantisai AI Tanpa Hasil

Di balik statistik yang mengkhawatirkan itu, pendapat pendiri Pesat.AI, Nell V.H., menegaskan bahwa “implementasi AI masih tergolong percobaan, bukan integrasi ke operasi utama.” Di Jakarta, pada hari Selasa (28/7/2026), ia menekankan pentingnya strategi kampanye AI yang selaras dengan kebutuhan operasional. Menurutnya, AI seharusnya menjadi bagian inti proses bisnis, bukan sekadar proyek teknologi yang terpisah. Keterukuran ini bertaut pada kebutuhan melindungi data dan pematuhan terhadap Undang‑Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) serta menuntut proses pelacakan ROI secara holistik.

Pesat.AI kini menawarkan layanan “AI Agency Indonesia” yang memetakan kebutuhan, merancang strategi, dan menerapkan solusi AI berdasar tujuan bisnis. Menurut Nell, platform ini membantu menyelaraskan teknologi AI sehingga anggaran dapat langsung tersinergi dengan produktivitas dan efisiensi. Proyeksi PwC menambahkan: “jika AI diterapkan secara efektif, kontribusi terhadap perekonomian Indonesia dapat mencapai US$ 366 miliar di tahun 2030.” Hal ini memicu keprihatinan, sebab masih banyak perusahaan belum menilai AI sebagai aset strategis.

PHK Amazon & AI Generatif

Di sisi lain, kebijakan Amazon pada 28/10/2025 menciptakan irama yang berbeda: perusahaan raksasa teknologi tersebut mempekerjakan hingga 14 000 karyawan perusahaan berencana diputus hubungan kerjanya. Siapa yang bertanggung jawab? CEO Andy Jassy memimpin program efisiensi yang dikenakan pada masa pandemi. Kenapa? Menurut pernyataan CNBC, pengurangan “dapat meningkatkan kecepatan dan efisiensi organisasi.” Sementara itu, kesempatannya juga menjadi titik awal bagi Amazon memperkerjakan AI generatif. Menurut Senior Vice President of People Experience and Technology, Beth Galetti, “generasi AI ini adalah transformatif paling besar sejak internet.” Etika di balik PHK tetap menjadi pembualan utama, mengingat potensi otomatisasi AI dapat menggantikan beberapa fungsi manusia.

Data yang dikumpulkan oleh Layoffs.fyi mencatat hingga 200 perusahaan teknologi di dunia mengumumkan PHK berapa‑berapa ribu karyawan pada 2025. Microsoft telah mengurangi 15 000 pekerja, Meta menghapus 600 posisi di divisi AI, Google dan Salesforce langkah serupa. Amazon, seiring sejarahnya, menjadi yang terdepok emphasis karena klaim AI generatif menggontrakan struktur tenaga kerja. Untuk memantapkan keputusan sendiri, Jassy menulis memo internal kepada karyawan tentang harmonisasi struktur, mengurangi manajer, dan mempercepat proses kerja.

Ketidakseimbangan ROI AI

Keterkaitan semua peristiwa ini memunculkan kontradiksi antara investasi AI yang berkembang dan ketidakmampuan banyak perusahaan merasakan dampak bisnis. Bagaimana? Perusahaan berinvestasi dalam AI namun masih menggunakannya dalam proyek “tes coba” yang tidak terintegrasi. Mengapa? Karena kurangnya strategi implementasi. Dimana? Di seluruh wilayah Asia Tenggara dan Donai Tech. Kapan? Dari awal tahun 2026 hingga Q3 2026. Siapa yang terlibat? Eksekutif senior Tech, penasihat AI seperti Nell V.H., serta lembaga konsinyasi seperti McKinsey, Singapore EDB, PwC, dan Amazon. Bagaimana prosesnya? Pengalokasian anggaran AI, pelaksanaan proyek uji coba, evaluasi ROI, dan akhirnya KPI bisnis.

Analisis singkat menegaskan bahwa dua faktor kunci mempengaruhi tren ini: pertama, kurangnya integrasi AI dalam workflow inti; kedua, perusahaan tidak menghasilkan nilai tambah yang cukup sehingga anggaran tidak memberi KPI yang memuaskan. Secara jangka panjang, positifitas ini dapat dirombak; meski Amazon berencana mengoptimalkan AI generatif, penyesuaian struktur tenaga kerja dan peningkatan produktivitas dapat memaksimalkan ROI. Sementara bagi perusahaan Asia Tenggara, strategi berbasis sukarela dan kepatuhan data akan menjadi kunci agar investasi AI tidak hanya menjadi angka aneh pada neraca namun benar-benar menjadi pemicu pertumbuhan.

Artikel Terkait

0