Persib Rilis Djadjang Nurdjaman, Akhir Direktur Teknik

BeritaLokal, Bandung – Kontrak Berakhir, Djadjang Nurdjaman Tak Lagi Jadi Direktur Teknik Persib. Persib Bandung secara resmi mengumumkan akhir masa jabatan Djanur, menjelang pergantian musim 2026/2027, setelah kontrak dua tahun yang dimulai pada 2024 tiba di terminusnya. Sejak bergabung, ia telah mendominasi lanskap teknis klub, memimpin organisasi ke titik kemajuan berkat sistem pengembangan pemain usia dini dan kebijakan rekruitmen yang menegaskan identitas Maung Bandung sebagai klub berbasis komunitas. Menanggapi keputusan tersebut, Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan, menyiapkan pernyataan resmi yang menekankan peran krusial Djanur dalam menunjang eksistensi persibatik di kancah sepak bola Indonesia.

Dalam narasi resmi, Adhitia menyatakan bahwa selama satu tahun terakhir Djanur telah mengimplementasikan beberapa inisiatif strategis, antara lain “melakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa pemain dewasa dan remaja serta mengefektifkan silo kebijakan pelatihan lintas generasi.” Ia menambahkan bahwa “keterlibatan beliau pada kebijakan identitas klub” menjadikan Persib lebih konsisten dalam memproduksi pemain berbakat yang meskipun kompetitif di Liga 1, tetap memegang prinsip budaya asli, seperti semangat persaudaraan dan rasa kebersamaan yang telah menjadi ciri khas Maung Bandung sejak kejayaan tahun 1986. Proses ini berlangsung bersamaan dengan kebijakan pengangkatan pelatih kepala yang bertujuan meningkatkan standar kompetitif Persib di tingkat nasional.

Sejarah Karier Djadjang Nurdjaman

Tergambar di lorong-lorong bersejarah Persib, Djanur menunjukkan kecakapan lintas peran yang menorehkan cinta atas klub dengan sebagai pemain, asisten pelatih, dan akhirnya pelatih kepala. Sebagai atlet, ia mewarisi kebanggaan saat Persib meraih satunya dua lampu gold di Kompetisi Perserikatan 1986 dan 1989/1990. Dilanjutkan dalam kapasitas asisten pelatih mendampingi Indra M. Tohir, ia membawa klub ulang rokah kontingen 1993/94 dan Liga Indonesia 1994/95. Kemunculannya sebagai pelatih kepala mengantarkan persib menorehkan gelar Liga Super Indonesia 2014, menandakan akhir dari periode kelam hampir dua dekade antusiasme juara, serta menambah trofi Piala Presiden 2015. Dengan menjadikan dirinya pemegang dua gelar, sebagai pemain dan pelatih, Djanur menempatkan dirinya di barisan excelentia Persib, mengikuti jejak Ade Dana yang pernah memimpin klub meraih dua penghargaan berbeda pada masa lalu.

Kontribusi Teknik dan Trofi Persib

Posisi Direktur Teknik yang dipegang Djanur melekat pada misi elevasi kebidanan klub yang terstruktur secara metodologis. Ia bertanggung jawab atas pengembangan sistem pelatihan, pencarian bakat, dan penyelarasan praktik teknis yang mencakup pemantauan kinerja pemain, perpaduan manajemen data, hingga kebijakan pembelian dan kebijakan pencatatan performa. Selama masa jabatan, Persib mencapai dua trofi bersejarah: Liga 1 2024/25 dan Super League 2025/26. Meskipun Djanur tidak hadir di lapangan secara langsung, kontribusinya pada arsitektur kebijakan teknis sangat berdampak pada konsistensi hasil yang menurun menjadi pemain lapangan. Di balik keberhasilan ini, PBB menegaskan bahwa “dia adalah jantung ritme teknis yang memberikan landasan bagi setiap penjaja klub,” menyoroti dedikasi dan loyalitas yang sudah menjadi integral dalam perjalanan Maung Bandung.

Pada aspek pembangunan pemain muda, Djanur mengdepanlah program “Persib Academy 2025” yang mengintegrasikan metode pelatihan berbasis data, serta berkolaborasi dengan Sejarah Klub dalam penyediaan fasilitas latihan yang modern. Seiring dengan pendekatan inovatif tersebut, Djanur menerapkan kajian pasar internasional untuk menarik model pelatihan top dunia, memperhalus pipeline pemain dari lokal hingga internasional. Bahkan, beliau memprakarsai pembentukan “Persib Global Outreach” untuk menjalin kemitraan dengan akademi luar negeri guna memperluas jaringan bakat.

Kembalinya ke kegiatan komunitas, Djanur juga berperan dalam penyusunan program “Persib Community Grants” yang menyediakan potensi pengembangan sepak bola desa. Program ini bertujuan meningkatkan kebangkitan bakat di daerah terpencil, memberi kesempatan kepada anak-anak yang belum memiliki akses ke fasilitas formal. Melalui inisiatif ini, Persib berkomitmen pada filosofi “Bukan hanya klub multikakak, tetapi juga institusi sosial”.

Setelah mengumumkan keputusan pengunduran diri, PBB tidak menutup kemungkinan akan membuka proses perekrutan Direktur Teknik baru. Dalam pernyataan, Adhitia menegaskan bahwa “Kita telah menyiapkan daftar calon potensial bagi posisi ini, yang akan disosialisasikan melalui proses seleksi terstruktur.” Proses itu akan mengikuti rencana jangka menengah klub, agar kesiapan teknis terus optimal tanpa henti. Namun, tetap diharapkan posisi baru akan melanjutkan warisan yang telah dibangun oleh Djanur, yakni sistem pengembangan teknik dengan fondasi identitas klub yang kuat.

Kesimpulannya, pengunduran diri Djanur menandai transisi penting bagi Persib. Kontrak Berakhir, Djadjang Nurdjaman Tak Lagi Jadi Direktur Teknik Persib merupakan titik balik bagi klub yang ingin menyesuaikan strategi teknis dengan dinamika sepak bola Indonesia yang semakin kompetitif. Tanpa kehilangan jatah kebanggaan yang dibawa, Persib tetap unggul memandang masa depan, berusaha mendorong progres gas bertahan di level tinggi, sekaligus mempertahankan nilai-nilai yang menjadi pedoman serta identitas Maung Bandung di layar luas.

Artikel Terkait

0