Migi Rihasalay Memukau di Runway Fashion Malang 2026

BeritaLokal, Malang – Migi Rihasalay melaju di Malang Fashion Runway 2026, usung koleksi busana Mother Earth, mencuri perhatian para penggemar mode dengan nuansa aromatik yang mengekspresikan krisis ekologi sekaligus ajakan praktis peduli lingkungan. Pada 11 dan 12 Juli 2026, acara ini berlangsung di Grand Hall Malang Town Square, menandai kelanjutan perjalanan karir sang desainer internasional di hub mode Jawa Timur ini.

Setelah menyiapkan 12 gaun dalam rangkaian “Mother Earth”, Migi Rihasalay hanya memamerkan delapan potong di panggung MFR 2026. Pemilihan yang lebih kecil namun berdampak mencerminkan pesan artistiknya: pemusatan pada esensi bumi sebelum munculnya vegetasi lebat. “Aku sengaja menyederhanakan tampilan agar menonjolkan setiap detail tersebut,” ungkapnya dalam wawancara online pada 16 Juli, menyatakan takjub terhadap penerimaan publik yang positif.

Video Pembuka Menyorot Perjalanan Bumi

Untuk memperkuat tema, penayangan video pembuka menggambarkan perjalanan bumi, mulai dari formasi planet hingga degradasinya akibat aktivitas manusia. Video tersebut menampilkan klip gempuran asteroid, matahari menelaah bumi, hingga kerusakan alam yang masih terlihat saat ini. Migi berfokus pada “Ibu Pertiwi menangis” sebagai metafora visual, mengajak penonton menata ulang pandangan mereka terhadap konservasi melalui tindakan sederhana, seperti reboisasi dan penghijauan kawasan perkotaan.

Di tengah glamor runway, desainnya tetap menjaga kedalaman pesan. Warna dasar yang pekat, menyerupai bebatuan kuno, aktif diselingi aksen tembaga bersinar, menandakan semangat awal kehidupan di bumi. Setiap busana terlukis detail akar, bibit, serta ornamen bergunung pasir, beresonansi dengan alam gurun yang pendirian nya menjaga ketahanan mikroklimat regional. Detail ini diciptakan menggunakan kain organik dan teknik bordir manual, sekaligus menegaskan siklus keberlanjutan dalam produksi mode.

Kurangnya detail tentang siapa yang memotret ekspresi tersebut tidak meredam kekaguman, baik dari kritikus maupun kolektor. Kedalaman bentuk dan tekstur memperlihatkan kemampuan Migi dalam menyeimbangkan estetika tinggi dengan pesan ekologis, membuat koleksi ini menonjol di antara paritas desainer muda di panggung yang sama.

Sementara itu, Migi juga menghargai kehadiran Agoeng Soedir Poetra, yang dikenal hangat di dunia runway dengan julukan “Panda”. Founder Malang Fashion Runway tidak hanya menjadi tuan rumah di 2018 ketika Migi pertama kali tampil sebagai pelajar, tapi juga menjadi mentor, memberikan ruang eksplorasi bagi Cipta Kreatif. “Aku sangat berterima kasih kepada Panda yang selalu memberi kesempatan kepada generasi muda untuk menampilkan kreasi di dunia mode,” ucapan Migi menggambarkan hubungan tidak sekadar profesional, tapi juga inspiratif.

Keistimewaan Malang bagi Migi tidak hanya tentang sejarahnya sebagai titik awal karir, tetapi juga lingkungan kreatif yang mendukung. Kota dengan budaya kopi industri dan seni tradisional menciptakan suasana yang memotivasi inovasi. Ia menilai Malang sebagai refleksikan keberagaman visual dan budaya yang membuka jendela bagi ide-ide revolusioner. “Di sinilah aku merasa termotivasi untuk terus berkembang,” ujarnya, menunjukkan dedikasi yang mendalam terhadap asal usulnya.

Pada akhir gala, penonton tetap tak henti bertekanan, bermatrik kesadaran akan pentingnya melestarikan planet. Kesampaian Migi Rihasalay lewat koleksi “Mother Earth” memanggil komunitas mode, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas agar lebih sadar akan dampak aktivitas manusia pada bumi. Jelas bahwa acara ini bukan sekadar pertunjukan busana, melainkan panggilan kebangkitan ekologis di tengah gemerlap industri kreatif.

Artikel Terkait

0