BeritaLokal, Jakarta – Sejak pertemuan pertama di ruang ganti set film “Juminten Edan”, Dimas Aditya sudah tak henti‑hentinya menegaskan batasan baginya dalam menghadapi adegan aksi. Ia, yang akan menegakkan wujud karakter Manto, seorang putra juragan garang yang jatuh cinta pada Juminten, seorang wanita disabilitas, menjelaskan kepada XXI Epicentrum di Jakarta Selatan apa yang membuatnya menolak bertindak dalam adegan berisik. “Aku lebih menyukai peran yang mengandalkan emosi daripada refleksi fisik,” ujarnya, menegaskan bahwa meski film ini mengandung segmen horor psikologis, ia menolak mengorbankan keselamatan fisik demi penampilan dramatis.
Batasan Adegan untuk Keselamatan
Dimas berijak dari masa lalu di mana tubuhnya bisa menahan lompatan tinggi dan perkelahian intens. Kini berusia setengah abad, ia memperhatikan setiap sinyal tubuh sebelum setuju mengeksekusi adegan eksplisit. Saat direktur Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh menyiapkan susunan adegan, Dimas menyampaikan rasa defini dan perkemaskan informasi ke tim produksi. “Jika adegan tersebut menampilkan benturan atau pendaratan kuat, saya menolak jadi saya selesaikan bersama sutradara dan crew khusus stunt,” terang sang aktor. Perintah ini mencerminkan kebijakan baru di set film: para aktor meminta dengan jelas bila mereka merasa tidak aman, dan kru bertindak untuk menambah protokol, termasuk memasang peralatan perlindungan dan memilih stuntman profesional saat diperlukan.
Alasan Usia dan Prioritas Emosi
Di luar faktor keselamatan, Dimas menilai setiap askes relatif terhadap kecintaannya pada pekerjaan. Saling bersinergi dengan produksi, ia menyatakan bahwa “passion” yang ia miliki tidak bersifat action-oriented. Ia berpendapat bahwa adu tenaga secara fisik tidak lagi tempat di mana ia dapat mengekspresikan diri. Ketertarikan lebih besar pada peran karakter yang rumit membuat dirinya menolak adegan yang menuntut eskalasi fisik. Kenyataannya: ia ingin melindungi tubuhnya, menjaga stamina untuk kinerja akting yang lebih diperhitungkan secara emosional, dan menghindari risiko cedera jangka panjang.
Fokus Emosi dalam Karakter Manto
Para kolega di set terima keputusan ini dengan antusias. Saat menjalankan peran Manto, Dimas mengekspresikan konflik internal melalui tatapan mata, gesture‑gesture halus, dan dialog yang tergambar kuat. Ia menyerukan agar rahasia menjaga peran secara mental tetap berada di bagian depan. Dalam satu adegan penting, sang sutradara mengatur tata ruang dan pencahayaan agar dapat menonjolkan perasaan pahit yang dialami karakter, sehingga tetap mengeksekusi sejarah cerita tanpa menurunkan keamanan aktor. Dimas menegaskan detail berikut: “Saya lebih bersedia melakukan stunt kecil yang mengandung risiko rendah, namun selalu bertenaga dan terkontrol.”
Perbaikan Narasi Tanpa Aksi Berat
Kebijakan resah ini ternyata memperkaya narasi yang konseptual dalam film “Juminten Edan”. Dengan menempatkan karakter yang kuat dan kerisannya bersifat emosional, publik menerima kisah tentang trauma masa lalu yang menggerogoti hubungan keluarga. Film ini menuntut seluruh pemain, seperti Meisya Amira, Sharon Jovian, dan Anne J. Coto, untuk mengekspresikan nuansa psikologis tanpa harus bergantung pada aksi fisik. Dimas menetralkan kejutan pada penonton secara dramatis, memberi sinyal bahwa perasaan dapat tumbuh tanpa memerlukan kegilaan fisik.
Rilis dan Tanggal Tayang Film
“Juminten Edan” yang disutradarai Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh akan tersiar kemunculannya di bioskop mulai 23 Juli 2026. Penulisan sejarah yang menaarahkan trauma, serta pembuatan adegan ekstrem yang dibatasi, membedakan film ini dari jenis horor psikologis tradisional. Dimas Teh temukan kembali moment; ia menandai wujud karakternya dengan kepasrahan tubuh dan melebihi walakannya, serta mengingatkan penggemar atas betapa pentingnya menjaga kesejahteraan aktor.
Dengan keputusan berbasis kesehatan dan alokasi darinya mendorong pesan baru bahwa keberhasilan film bukan hanya didorong oleh aksi namun juga dari artinya dalam penyampaian emosi yang kuat dan aman. Dimas Aditya, dalam pandangannya, sekaligus menguatkan nubur bahwa industri perfilman dapat pergi lebih jauh, menjaga batas, dan sedirinya tetap menejarinya, menebas catatan dalam pasar film Indonesia.
Artikel Terkait
Dimas Aditya Jegul 3 Hari Kuasai Bahasa Isyarat, Aktor Film
18 Juli 2026
Nagra Pakusadewo Gelar Peran Antagonis, Mengincar Religius
16 Juli 2026
Sisca Saras Menampilkan Pesona di Fashion Carnaval Jember
27 Juli 2026
Andrew Andika Beralih Bisnis Baru, Tinggalkan Dunia Hiburan
27 Juli 2026
Sule Terbuka Teddy Jadi Ahli Waris Lina Jubaedah
27 Juli 2026
Fedi Nuril Jadi Kiper Tarkam Film, Tadah Cedera di Lapangan
27 Juli 2026
Billy Syahputra Kecelakaan Anak Saat Main
27 Juli 2026
Ibra Film Menembus Langit Kisah Konflik Bersahabat
27 Juli 2026
Memuat komentar...