BeritaLokal, Bandar Abbas – Harga Minyak Masih Tinggi, Konflik AS-Iran Memanas terus merasakan dampak tak terduga pada pasar energi dunia, mencatatkan harga petroleum tetap stabil meski ketegangan memperparah keraguan terhadap pasokan global. Di tengah situasi geopolitik yang menegangkan, para pelaku pasar terfokus pada setiap langkah terakhir dari kedua negara dan bagaimana kebijakan baru dapat menambah volatilitas.
Pada perdagangan Rabu, kontrak WTI mentah Juni bagi pengiriman Agustus naik 26 sen, setara 0,3 %, menutup di US$ 79,60 per barel, menurut data CNBC yang dirilis 16/7/2026. Sementara itu, kontrak Brent untuk pengiriman September menguat 22 sen menjadi US$ 84,95 per barel, yang menandakan bahwa bahkan dalam ketidakpastian, pasar masih mempertahankan harga tinggi. Fluktuasi ini terjadi di tengah pergerakan di pasar global yang menimbang kebijakan blokade AS terhadap Iran serta respon militer yang melakukan serangan baru di wilayah Selat Hormuz.
Operasi Terbaru di Selat Hormuz
Pada selasa malam, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) meluncurkan operasi serangan udara dan satelit yang menargetkan puluhan aset militer Iran di sekitar Selat Hormuz dan sepanjang garis pantai negara tersebut. Operasi tersebut berlangsung selama kira‑kira tujuh jam, memanfaatkan pesawat tempur, drone, dan kapal perang untuk menghantam fasilitas rudal dan sistem pertahanan pesisir. Amerika mengumumkan kembali blokade laut terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran, menambah ketegangan di kawasan penting tersebut.
Iran menanggapi dengan melancarkan serangan terhadap tujuh kapal dagang. Langkah ini seakan‑seakan bertujuan melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam jalur pelayaran komersial. Menurut pernyataan jenderal Brad Cooper dari CENTCOM, Iran “sengaja menargetkan warga sipil dan menyerang tujuh kapal komersial selama sepekan terakhir,” menimbulkan korban jiwa yang masih belum pasti jumlahnya. Serangan ini lambat‑lambat menambah kerusakan on the waterway critical to global oil supplies.
Saul Kavonic, analis energi senior di MST Marquee, menilai bahwa eskalasi terbaru menunjukkan bahwa harapan pasar akan segera terbukanya kembali Selat Hormuz terlalu dini. Ia menegaskan bahwa “konflik kembali memasuki fase yang lebih berbahaya setelah blokade laut diberlakukan kembali.” Kavonic memprediksi bahwa harga minyak berpotensi mencapai atau melewati US$ 100 per barel jika intensitas serangan berlanjut beberapa pekan, sekaligus menimbulkan risiko tambahan bila infrastruktur minyak di kawasan menjadi sasaran serangan. Implikasi tersebut tidak hanya meningkatkan harga, tetapi juga memperluas ketidakpastian pasokan kepada negara-negara konsumen terbesar.
Para pelaku pasar dan analis energi di seluruh dunia menindaklanjuti pergerakan yang belum kusut di Selat Hormuz. Setiap gema konflik dapat memicu lonjakan harga minyak dalam jangka waktu singkat, terutama jika ada gangguan lebih lanjut pada jalur distribusi energi dari Timur Tengah. Dengan demikian, para trader menunggu keputusan di tingkat diplomasi dan militer yang dapat menentukan arah harga dan stabilitas pasokan energi dunia.
Artikel Terkait
Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Mereda
28 Juli 2026
Harga Minyak Mundur 5% Setelah Iran Hentikan Serangan
27 Juli 2026
Harga Minyak Naik 4,6% Setelah Serangan Kapal Tanker
23 Juli 2026
Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 3% Usai US Menolak Iran
23 Juli 2026
Harga Minyak Melesat ke Level Tertinggi Akibat Serangan AS
22 Juli 2026
Harga Minyak Dunia Dekat $90 Pasca Trump Ancaman Iran
21 Juli 2026
Harga Minyak Dunia Meledak Dampak Konflik AS-Iran
20 Juli 2026
Harga Minyak RI Turun Menjadi $83 per Barel
19 Juli 2026
Memuat komentar...