BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memperkuat tuntutan produksi konten dalam skala besar yang harus terus berjalan tanpa henti. Di tengah kerja keras itu, game Destiny 2 nyaris tidak pernah benar-benar menghasilkan keuntungan. CEO Epic Games Tim Sweeney menyampaikan pendapatnya bahwa teknologi AI bisa menjadi solusi untuk mempertahankan eksistensi game tersebut.
Sweeney menyebutkan bahwa Destiny 2 krisis karena tuntutan produksi konten yang terus-menerus tanpa penyelesaian. Ia menilai, jika teknologi AI digunakan, tim pengembang bisa membuat aset atau konten secara massal, sehingga tak perlu kewalahan memenuhi ekspektasi pemain. “AI seharusnya bisa jadi solusi untuk game tersebut,” kata Sweeney dalam tweet yang diunggah pada 29 Juni 2026.
Menurut laporan Forbes, CEO Epic Paul Tassi menyebut dua faktor utama kegagalan Destiny 2: kurangnya kepemimpinan dan kesalahan urusan Bungie terhadap IP-nya sendiri. Tassi menyoroti tuntutan produksi konten yang tak terbantu oleh teknologi AI, meski seharusnya bisa mempercepat proses pembuatan konten.
Sweeney pernah mengkritik kebijakan Steam soal label AI, menyebut kewajiban ini bisa memicu reaksi negatif dari pemain. Ia menilai, jika teknologi AI diterapkan, game seperti Destiny 2 mungkin tak perlu mati. “AI seharusnya bisa jadi solusi untuk game tersebut,” ujarnya dalam tweet yang sama.
Sweeney juga menyebut bahwa kebijakan Steam yang memaksa studio mengungkap penggunaan AI bisa merusak karya mereka. Ia menilai, kebijakan itu justru bisa memicu reaksi negatif dari pemain, sehingga karya-karya mereka sulit berkembang.
Dalam artikel ini, fokus utama adalah pada peran teknologi AI dalam memperbaiki tuntutan produksi Destiny 2. Sweeney menegaskan bahwa AI bisa menjadi alat untuk mempertahankan eksistensi game tersebut. Tapi ia juga menyebutkan, keberhasilan game tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada manajemen dan kreativitas tim pengembang.
Krisis Destiny 2 terus berlangsung hingga saat ini. Sweeney menegaskan bahwa AI bisa menjadi solusi jika digunakan dengan tepat. Ia menyebutkan, jika teknologi itu diterapkan, game mungkin tak perlu mati. Namun, ia juga menyatakan bahwa keberhasilan game tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada manajemen dan kreativitas tim pengembang.
Artikel Terkait
Cheater Meccha Chameleon Ganggu Keseruan Game
7 Juli 2026
Tim Sweeney Sindir Valve Menaikkan Harga Steam Deck untuk Kapal Pesiar Milik Gaben
30 Mei 2026
Crimson Desert Switch 2 Pengembangan Berjalan
9 Juli 2026
Sony Gagal Rilis DualShock Emulator PS1 Akibat Royalti
9 Juli 2026
CEO CI Games: GTA VI Fisik Tidak Adil, Pendapatan Rendah
9 Juli 2026
Square Enix Bicara Preservasi Game EOS: NieR Reincarnation Jadi Contoh
9 Juli 2026
Aniimo Rilis Trailer Terbaru untuk Closed Beta Test Global
9 Juli 2026
Strategi Build Mona Genshin Impact Terbaik
9 Juli 2026
Memuat komentar...